Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Syukur Itu Indah

Senin 17 Jun 2019 12:35 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Seorang jamaah haji bersujud syukur setibanya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Sabtu (21/7).

(Ilustrasi) Seorang jamaah haji bersujud syukur setibanya di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Sabtu (21/7).

Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Orang yang tidak mau bersyukur hatinya diliputi keserakahan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Noor Fajril Huda     

Baca Juga

''Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.'' (QS Al-Baqarah [2]: 243).

Bisa jadi selama ini kita menjalani kehidupan tanpa rasa syukur. Kita merasa semua yang kita dapat sudah selayaknya menjadi hak kita. Karena itu, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita menjadi kesal. Mungkin juga kecewa, lalu mencela kehidupan.

Kita sering memusatkan perhatian pada keinginan kita, meski sebenarnya apa yang kita inginkan itu tidak kita butuhkan. Perhatian kita tidak berpusat pada apa yang telah menjadi milik kita. Akibatnya, kita masih merasa kurang dengan apa yang kita miliki saat ini. Selain itu, kita cenderung membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita menganggap orang lain lebih beruntung.

Seringkali kita menetapkan syarat yang sangat sulit untuk bisa kita penuhi agar bisa bahagia. Kita akan bahagia kalau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Namun, begitu mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas dan menginginkan yang lebih lagi. Kita tak pernah merasa cukup dengan banyaknya harta yang kita miliki. Bila itu yang terjadi, kita memang belum bersyukur. Nafsu yang bersemayam di dalam hati menjadi berhala, dan justru kita sendiri yang menjadi budaknya. Inilah akar segala ketidakbahagiaan.

Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak berterima kasih. Hatinya dikuasai oleh keserakahan sehingga ia tidak peduli, sebanyak apa pun dia memperoleh, dia menjadi semakin serakah. Ketika hanya memperoleh sedikit daripada yang telah ia rencanakan, ia menolak untuk berterima kasih.

Dalam hidup ini, kita tak selalu mendapatkan apa yang kita sukai. Karena itu, kita mesti belajar menyukai apa pun yang kita dapatkan. Kita belajar untuk mewujudkan perasaan syukur. Bersyukur adalah sikap menerima dengan lapang dada, senang, tulus, pasrah, dan berterima kasih.

Dengan demikian, syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Orang 'kaya' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tapi orang yang dapat menikmati apa pun yang mereka miliki. Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Dengan bersyukur, perasaan damai dan tenteram akan senantiasa meliputi diri kita. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia. Wallahu a'lam bish-shawab.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA