Ahad 16 Jun 2019 15:30 WIB

Tantangan Umat Islam di Turin

Muslimin Turin masih dihadang isu islamofobia.

Kota Turin, Italia
Foto: .anyairportcarhire.com/
Kota Turin, Italia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Muslimin Turin masih dihadang isu islamofobia. Alhasil, perizinan pembangunan masjid masih cukup sulit dilakukan. Apalagi, sejak mencuatnya kabar seorang Muslim italia, Abu Farid Al Masri, yang menjadi pelaku bom bunuh diri menghancurkan gedung PBB di Baghdad pada 2003. Sejak itu, warga Itali, termasuk Turin, selalu waswas terhadap keberadaan Muslim.

Namun, seperti di negara dan kota lain di Eropa, isu islamofobia justru membawa dakwah Islam makin berkembang di Turin. Jumlah mualaf terus meningkat tiap tahunnya. Baru-baru ini, Muslim Turin juga telah berhasil mendapat perizinan untuk pembangunan masjid baru di kawasan Lingotto. Saat peresmian Juli lalu, hadir wakil dari asosiasi Islam berbagai kota dan negara dekat.

Baca Juga

Komunitas Muslim Turin juga berkembang pesat. Banyak pula Muslimin Turin yang bergabung di organisasi keislaman tingkat Italia. Turin juga sering kali menjadi tuan rumah konferensi Uni Masyarakat dan Organisasi Islam Italia (UCOII), organisasi yang menyatukan seluruh Muslimin di Italia. Selain Kota Milan, Turin menjadi kota yang aktif dalam perkembangan dakwah Islam.

Tak hanya itu, dalam hal toleransi beragama Turin juga rupanya dapat menjadi contoh kota-kota lain di Italia, bahkan Eropa. Persatuan uskup Eropa pernah berkunjung bertemu komunitas Muslim Turin. Mereka pun menawarkan sebuah hubungan baik dengan Muslimin, enkulturasi progresif Islam di Eropa.

 Tantangan

Kendati kehidupan Muslim Turin cukup tenang dan nyaman, bukan berarti luput dari tantangan. Guru besar Sejarah Islam Universitas Turin Farian Sabahi menuturkan, hingga kini tak ada model spesifik di Turin, bahkan di Italia untuk pemerintah menyikapi Muslimin. Tak seperti negara Eropa lain, pemerintahan Italia belum menjadikan hal tersebut sebagai prioritas yang perlu dibahas. “Muslim dianggap menakutkan bagi Italia karena kebanyakan adalah orang miskin,” ujar Sabahi.

Dengan status demikian, Muslimin hanya akan dianggap sebagai penyebab kerusuhan dan akan menjadi objek kekerasan. Hal tersebut terbukti dari beberapa kasus yang makin marak terjadi. Selain itu, masih ditemui pula pencegahan area strategis untuk lokasi pendirian masjid. “Di beberapa kota Italia, khususnya di utara, politisi telah mengeksploitasi sentimen anti-imigran untuk menghadang pembangunanan tempat ibadah baru,” ujarnya.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement