Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Puasa dan Pola Makan Islami

Jumat 07 Jun 2019 14:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Ramadhan

Ramadhan

Foto: IST
Umat Islam diajarkan untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dikisahkan, seorang tabib diutus oleh Raja Mesir, Muqauqis, kepada Rasulullah SAW sebagai bentuk solidaritas sosial untuk mengobati penduduk Madinah secara cumacuma. Namun, setelah sang tabib bermukim beberapa lama di Madinah, tak ada seorang pasien pun datang berobat padanya. 

Sang tabib pun melakukan pe ninjauan terhadap penduduk kota, dan ia tak menemukan seorang penduduk pun memiliki keluhan kesehatan. Akhirnya, ia memutuskan un tuk meninggalkan Madinah ka rena merasa tak ada yang perlu ia obati di sana. Ketika berpamitan kepada Rasulullah SAW, ia meng utarakan kekagumannya pada pola hidup kaum Muslimin, sambil ber kata, “Tuan, izinkan kami mengetahui rahasia apakah yang meny e babkan tak seorang pun mengeluh sakit di sini?” 

Rasulullah menjawab, “Kami kaum yang tidak makan hingga ka mi merasa lapar, dan ketika makan kami tidak (makan sampai) ke nyang.” (HR Abu Dawud). 

Kesehatan berkaitan erat dengan pola makan. Melalui hadis di atas, kita diajarkan untuk tidak berlebihan memasukkan makanan ke da lam sistem pencernaan. Terlebih, Alquran memerintahkan hal yang sama, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebihlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang ber lebih-lebihan.” (QS al-A’raf: 31). 

Sebuah hadis hasan dari Miqdam bin Ma’dikariba menegaskan hal itu. Ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah baginya memakan beberapa suap untuk sekadar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga). Jika tidak bisa demikian, hendaklah ia menjadikan sepertiga lambungnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara’.” (HR At-Tirmidzi). 

Puasa 

Hal lain dalam Islam yang diyakini dan telah terbukti bermanfaat bagi kesehatan adalah ibadah puasa. Saat ini, tak seorang pun ahli medis, baik Muslim maupun non- Muslim, yang meragukan manfaat puasa bagi kesehatan. 

Mahmud Ahmad Najib, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Ain-Syams, Mesir, juga menegaskan manfaat puasa bagi ke se hatan dalam bukunya yang berjudul Peme liharaan Kesehatan dalam Islam. Dijelaskan dalam buku tersebut, puasa memperkecil sirkulasi darah sebagai perimbangan untuk mencegah keluarnya keringat dan uap melalui pori-pori kulit serta saluran kencing tanpa perlu menggantinya. 

Dijelaskan pula, curah jantung yang mendistribusikan darah ke seluruh pembuluh darah akan membuat sirkulasi darah menurun. Dan itu memberi kesempatan kepada otot jantung untuk beristirahat setelah bekerja keras satu tahun lamanya. Puasa memberi kesempatan pada jantung untuk memperbaiki vitalitas dan kekuatan selnya. 

Selain itu, masih menurut buku tersebut, puasa memberi kesempatan kepada alat-alat pencernaan untuk beristirahat karena ketika seseorang berpuasa, lambung dan ususnya beristirahat selama beberapa jam dari kegiatannya. Proses penyerapan makanan juga berhenti sehingga asam amonia, glukosa, dan garam tidak masuk ke usus. Dengan begitu, sel-sel usus tidak mampu menghasilkan komposisi glikogen, protein, dan kolesterol.

Seorang ahli dari Amerika, Allan Cott MD, juga telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan dari berbagai negara mengenai hikmah puasa dalam buku Why Fast. Disebutkan, puasa me mun culkan perasaan lebih baik secara fisik dan mental, member sihkan tubuh, menurunkan tekanan darah dan kadar lemak, menjadikan badan sehat dengan sendirinya, me numbuhkan kemampuan mengendalikan diri sendiri, dan memperlambat proses penuaan.

Dunia ilmiah juga telah membuktikan bahwa proses detoksifikasi saat puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan. Praktisi dan pengkaji kedokteran Nabi, dr Mohammad Ali Toha Assegaf, dalam buku 365 Tips Sehat ala Rasulullah menulis, pada kotoran (feces) dan air seni orang yang berpuasa ditemukan racun organophosphat. Dalam tubuh, bahan racun tersebut bersemayam dalam sel-sel adipose (lemak) yang mengalami pembongkaran dengan cepat saat seseorang berpuasa.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA