Senin 20 May 2019 09:19 WIB

Wasiat Etika dari Berziarah ke Makam Sultan Banten Pertama

Ziarah ke Makam Sultan Banten pertama populer di kalangan umat Islam.

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah
Makam Sultan Maulana Hasanuddin di Kasemen, Kota Serang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
Foto: Republika/Alkhaledi Kurnialam
Makam Sultan Maulana Hasanuddin di Kasemen, Kota Serang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, SERANG— Lokasi yang berdampingan dengan Masjid Agung Banten, Makam Sultan Maulana Hasanuddin di Kasemen, Kota Serang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Saat memasuki bangunan makam, akan terlihat kumpulan peziarah duduk bersila di depan Makam Sultan Maulana Hasanudin. Dipimpin seorang pengurus makam, mereka melafalkan doa dan tahlil di depan makam sultan yang tertutup ruangan lain.  

Baca Juga

Hanya tulisan 'Maqbaroh Sulthan Maulana Hasanuddin' atau kuburan Sultan Maulana Hasanuddin dalam bingkai di atas pintu ruangan yang memastikan kalau dalam ruang tersebut ada makam sultan.

Peziarah hanya akan berdoa di depan ruangan makam lalu pulang saat doa yang dipimpin pengurus makan usai tanpa bisa melihat bentuk makam. Jika pun ingin melihat ke dalam ruangan, peziarah dapat mengintip dari jendela samping ruangan. 

Akan terlihat makam sultan yang bersampingan dengan pusara sanak keluarganya yang ditutupi kelambu. Hanya makam biasa terlihat, kesan sederhana dari makam seorang sultan besar.  

Terlihat peziarah tidak hanya dari kaum tua, anak-anak hingga remaja ikut melakukan ziarah ke makam pendiri kesultanan Banten ini. Tidak jarang terlihat ibu-ibu turut menggendong bayi sambil berziarah. Beberapa peziarah mengatakan bahwa hal ini memang telah menjadi kebiasaan yang dilakukan keluarga, beberapa juga mengaku baru kali pertama.  

photo
Makam Sultan Maulana Hasanuddin di Kasemen, Kota Serang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.

Peziarah dari Cilegon, Saifan (25), mengatakan ziarahnya kali ini adalah kali keduanya. Dirinya membawa serta tiga orang temannya untuk sekadar berdoa di makam.  

"Ya beliau (Sultan Maulana Hasanuddin) kan orang saleh, kita tawasul saja di sana. Berdoa biar dapat rezeki, biar sehat terus pokoknya semua  yang baik-baik," ucapnya.  

Salah seorang pengurus makam, Nawawi (65) mengatakan berdoa di makam sultan bukan berarti meminta kepada sultan. Hal ini yang sering dia ingatkan kepada para peziarah, karena hal itu bisa masuk dalam katagori syirik yang jadi dosa besar dalam Islam. "Mendoakan orang yang dikubur, karena orang-orang ini punya jasa besar," ucapnya. 

Saat dirinya memimpin doa untuk para peziarah juga yang diucapkan adalah meminta pengampunan doa bagi peziarah dan orang yang di kubur. Hanya saja kelebihan berdoa di makam menurutnya akan khusyuk. "Kan di makam jadi lebih ingat mati," ucapnya sambil menyimpulkan senyum.  

photo
(ilustrasi) Maulana Hasanuddin, sultan Banten yang pertama

Selama lebih dari 20 tahun mengurus kompleks makam sultan, dirinya memang mengaku banyak menemukan penyimpangan praktik ziarah. Ada saja orang yang mengambil tanah di sekitaran kompleks makam hingga mencium-cium nisan kuburan.  

"Ada yang sampai cium-cium itu bisa syirik jatuhnya, seperti mengagung-agungkan makam. Yang diagungkan itu Allah SWT, jangan sampai keliru niat  malah makam," tutur Nawawi.  

Sultan Maulana Hasanuddin merupakan pendiri kesultanan Banten dan berkuasa lebih dari 20 tahun dan merupakan anak dari Sunan Gunung Jati yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Banten.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement