Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Ketika Bangsa China Era Klasik Menyebut 'Islam'

Senin 01 Apr 2019 22:01 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(ilustrasi) peta cina

(ilustrasi) peta cina

Foto: google maps
Agama Islam disebut dengan rupa-rupa nama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak abad kedelapan, orang-orang Cina menyebut Islam dengan pelbagai nama. Dalam era Dinasti Tang, Islam disebut sebagai Dashi Jiao. Kata dashi merujuk pada Arab, sedangkan jiao berarti agama atau kepercayaan. Selanjutnya, di zaman Dinasti Ming (1368–1644) Islam dipanggil dengan nama Tianfang Jiao, 'agamanya bangsa Arab', atau Hui Hui Jiao. Sebab, pada masa itu cukup banyak suku bangsa Hui yang memeluk Islam, sampai-sampai orang Hui dianggap representasi Muslim Cina.

Baca Juga

Secara total, ada 56 suku bangsa yang menghuni Cina. Sepuluh di antaranya yang memiliki pemeluk Islam dalam jumlah signifikan, yakni Hui, Uighur, Kazak, Dongxiang, Khalkhas, Sala, Tajik, Uzbek, Bao'an, dan Tatar. Sampai hari ini, Hui merupakan suku bangsa di RRC yang mayoritasnya menganut Islam. Menurut sensus tahun 2011, sekitar 10,5 juta orang Hui tinggal di negara komunis tersebut.

Penamaan selanjutnya yang lebih abstrak (tidak merujuk pada suku tertentu) berlangsung di zaman Dinasti Qing (1636-1917). Elite Qing menyebut Islam sebagai Qingzhen Jiao, yakni 'agama yang murni'. Beranjak ke era modern, istilah Islam tentunya telah dikenal luas. Sejak RRC berdiri resmi pada 1 Oktober 1949, ada aturan negara setempat yang mengimbau agar agama ini disebut sebagai Islam saja, tanpa disertai embel-embel yang merujuk pada etnis tertentu.

Semasa Dinasti Tang dan Dinasti Song, Islam tersebar dengan cukup pesat di Cina. Kebanyakan kaum Muslim setempat menghuni daerah perkotaan atau kawasan pelabuhan. Penguasa Cina saat itu tidak keberatan dengan aktivitas kaum Muslim yang mayoritasnya merupakan pedagang atau diplomat dari negeri-negeri luar. Tambahan pula, diplomasi Cina dengan kekhilafahan Muslim berlangsung dengan cukup harmonis dalam beberapa ratus tahun.

Komunitas Muslim Cina, dengan demikian, dapat menjalani mobilitas sosial dan menjadi bagian dari birokrasi kekaisaran. Mereka yang memiliki darah pendatang cenderung tanpa kesulitan berbaur dengan masyarakat Cina asli.

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA