Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kejahatan Rasial di Inggris Meningkat

Kamis 28 Mar 2019 18:11 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Gerbang Brandenburg Berlin berselimutkan proyeksi bendera union jack Inggris sebagai tanda belasungkawa atas aksi teror di Jembatan London

(Ilustrasi) Gerbang Brandenburg Berlin berselimutkan proyeksi bendera union jack Inggris sebagai tanda belasungkawa atas aksi teror di Jembatan London

Foto: Joerg Carstensen/DPA via AP
Peningkatan itu berkaitan dengan peristiwa teroris tahun silam dan Brexit.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Dua wilayah di Britania Raya, yakni Inggris dan Wales, menjadi sorotan dalam konteks kerukunan beragama. Statistik terbaru menunjukkan peningkatan tindak kejahatan berbasis rasial di sana. Bahkan, jumlah pelanggaran demikian yang tercatat mencapai rekor tinggi.

Baca Juga

Kepolisian Britania Raya mencatat sebanyak 94.098 kejahatan rasial di Inggris. Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.

“Telah terjadi juga lonjakan kejahatan rasial menyusul peristiwa-peristiwa tertentu seperti referendum Uni Eropa (British Exit/Brexit) dan serangan teroris pada 2017,” tulis dokumen yang dirilis Home Office, seperti dikutip Independent.co.uk, Kamis (28/3).

Dokumen itu juga mengungkapkan, pelonjakan tajam kejahatan rasial yang menyasar umat agama-agama. Hal itu terjadi setelah tahun 2017, yang di dalamnya beberapa aksi terorisme terjadi di Inggris. Laporan dari Home Office itu mencakup periode antara April 2017 dan Maret 2018.

Direktur Kelompok Pemantau Islamofobia Tell Mama Iman Atta turut memperingatkan tentang efek yang diterima masyarakat dalam jangka panjang.

“Kami melihat ini muncul tahun yang lalu (2017). Langkah media sosial yang lamban untuk bertindak terhadap akun-akun anti-Muslim mulai 2012, munculnya sayap kanan dan manipulasi dunia online oleh mereka (menjadi faktor). Kemudian, serangan teroris, berita utama media yang meradang, dan pengarusutamaan fanatisme anti-Muslim ke dalam mainstream politik, semuanya itu sudah menambah masalah,” papar Iman Atta.

Dokumen yang sama menyebutkan, sekitar dua pertiga dari total korban merasa polisi telah memperlakukan mereka secara adil. Penasihat Kebijakan di Victim Support Alex Mayes menilai, respons polisi lebih baik terkait kejahatan rasial.

“Statistik tersebut mencerminkan pengalaman kami sendiri karena selama tahun lalu kami sudah menawarkan informasi dan dukungan kepada sekitar 25 ribu orang yang merupakan peningkatan 23 persen pada tahun sebelumnya,” kata dia.

Meski begitu, menurutnya masih banyak kejahatan rasial yang tidak dilaporkan. “Kami ingin orang-orang tahun kalau kejahatan rasial akan ditanggapi serius dan ada dukungan tersedia bagi siapa saja yang membutuhkan,”  ujar Mayes.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA