Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Pentingnya Menjaga Lisan

Sabtu 23 Mar 2019 23:35 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Agung Sasongko

Bergosip (ilustrasi)

Bergosip (ilustrasi)

Foto: johnprattbooker.com
Lisan mesti sejalan dengan prinsip kehati-hatian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lisan merupakan anugerah yang diberikan kepada umat manusia. Meski lisan membawa manfaat dan memudahkan dalam berkomunikasi, keberadaannya mesti sejalan dengan prinsip kehati-ha ptian.

Ustaz Abu Ihsan al-Atsari dalam kajiannya di Masjid Baitul Hakim menyebut lisan juga bisa menjadi sumber petaka. Banyak orang yang masuk neraka dikarenakan perkataannya. "Lisan adalah anggota tubuh yang paling elastis. Tidak bertulang. Diciptakan tanpa tulang sehingga mudah digerakkan. Namun, seringnya kita melupakan apa-apa saja yang sudah kita ucapkan dan katakan," ujar Us taz Abu Ihsan dihadapan jamaah, belum lama imi.

Lisan merupakan nikmat yang didatangkan oleh Allah SWT. Dengan lisan, manusia bisa merasakan nikmatnya berbicara. Namun, ketika diberi nikmat ber bicara, ada tanggung jawab yang juga harus dipikul oleh manusia. Setiap kata-kata yang diucapkan oleh manusia akan dicatat oleh malaikat.

Allah SWT dalam QS Qaaf ayat 16-18 berfirman, "Dan se sungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya", '(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.' 'Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang se lalu hadir'." Dalam surat itu disebut bah wa semua perkataan yang dikeluarkan oleh manusia dicatat oleh malaikat. Keluhan dan aduan pun dicatat. Inilah yang menjadi pertanggungjawaban dari ucapan yang telah diucapkan.

Kaum Muslimin hendaknya bisa berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Apa pun yang akan diucapkan harus diperhatikan apakah membawa manfaat dan baik atau tidak. Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam." Berbicara yang baik berarti membicarakan hal yang benar dan membawa manfaat. Ada kata-kata yang benar tapi tidak bermanfaat. Contohnya ghibah, yang bisa jadi benar namun tidak mem bawa manfaat.

Ada pula kata-kata yang membawa manfaat tapi tidak benar. Contohnya orang yang berdusta atas nama Nabi SAW untuk menyemangati orang melakukan iba dah. Biasanya dibuat hadis-hadis palsu, seperti membaca ayat A akan membawa manfaat B, agar makin banyak orang mem baca Alquran, padahal Nabi SAW tidak pernah menyatakan demi kian. "Hisabnya berat," lanjut Us taz Abu Ihsan.

Ia melanjutkan, saat hari akhir nanti, semua anggota tubuh akan menuntut lisan atas perbuatannya di dunia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Tir midzi, Uqbah bin Amir berkata, "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, 'Ya Ra sulullah apakah keselamatan itu?' Beliau menjawab, 'Selamat itu ada tiga perkara. Pertama jaga li sanmu, kedua tangisi kesalahanmu, dan ketiga hendaknya kamu betah di rumahmu'."

Nabi juga pernah ditanya oleh seseorang dari Arab Badui. Ia ber kata, "Ya Rasul beri aku se buah wasiat, tapi jangan panjangpan jang." Nabi pun menjawab, "Janganlah kamu berbicara de ngan satu perkataan yang mem buat kamu nantinya harus me minta maaf. Jika kamu berdiri sha lat maka lakukanlah seolaholah itu shalat terakhirmu. Dan jangan berambisi atas apa yang ada di tangan orang lain."

Menarik ucapan yang telah dikeluarkan itu berat. Sama seperti menelan ludah atau muntah yang telah kita keluarkan. Ustaz Abu Ihsan menyebut banyak orang yang keseleo lidah, tapin ketika diminta untuk meminta maaf ia tidak mau, bahkan mengingkari jika pernah berkata de mikian.

Ustaz Abu Ihsan meminta ja maah untuk zuhud. Yaitu tidak mengharapkan sesuatu yang ber sifat duniawi dan belum dimiliki. Dia meminta untuk tidak berlomba- lomba atas sesuatu yang ada di dunia. Perbanyak pula qanaah atau bersyukur atas apa yang su dah dimiliki, menerima apa yang diberikan oleh Allah SWT. Sing kirkan rasa tamak atau am bisi un tuk memiliki apa yang ada pa da orang lain.

Dari Mu'adz bin Jabal RA, ia mengatakan, "Aku bertanya, 'Wa hai Rasulullah, beritahukan ke padaku tentang amalan yang akan mema-sukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.' Beliau bersabda, 'Sung guh kamu bertanya tentang suatu yang besar, dan sesungguhnya itu sangat mudah bagi siapa yang di mudahkan oleh Allah; yaitu kamu menyembah Allah dan tidak me nyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.'

Kemudian beliau bersabda, 'Mau kah aku tunjukkan kepa da mu tentang pintu-pintu kebajik an? Puasa adalah perisai, sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat yang dilakukan seseorang di tengah malam.' Kemu dian beliau membaca, 'Lambung mereka jauh dari tempat tidur nya' hingga 'yang telah mereka ker jakan.'

Kemudian beliau bertanya, 'Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok urusan, tiang nya, dan puncaknya?' Aku menjawab, 'Tentu, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda, 'Pokok segala urusan ialah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya ialah jihad.'

Kemudian beliau bertanya, 'Maukah aku beritahukan kepa damu tentang inti semua itu?' Aku menjawab, 'Tentu, wahai Ra sulullah.' Lantas beliau meme gang lisannya seraya bersabda, 'Tahanlah ini padamu.' Aku ber tanya, 'Wahai Nabi SAW, apakah kami akan dihukum karena apa yang kami ucapkan?' Beliau menjawab, 'Semoga ibumu kehilangan kamu! (ungkapan terkejut). Tidak ada yang menjatuhkan wajah manusia (Leher manusia) ke dalam neraka, melainkan hasil lisan mereka (yang buruk)'." 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA