Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Perempuan Penopang Peradaban

Jumat 22 Mar 2019 15:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Muslimah

Ilustrasi Muslimah

Foto: EPA/Mast Irham
Banyak peran yang dimainkan perempuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak peran yang dimainkan perempuan. Tak hanya langsung terjun mendalami pengetahuan, tetapi ada di antara mereka yang membuka jalan bagi berkembangnya tradisi keilmuan. Misalnya, Fatima Al Fehri. Ia memainkan peran penting dalam mengembangkan peradaban dan budaya.

Baca Juga

Fatima ikut bermigrasi dengan ayahnya, Mohamed Al Fehri, dari Kairouan, Tunisia, ke Fez. Ia tumbuh bersama saudara perempuannya dalam sebuah tradisi keilmuan yang sangat kental, termasuk dalam mempelajari hadis dan fikih. Pada masa berikutnya, ia mendapatkan warisan harta yang berlimpah dari ayahnya.

Tak ada yang sia-sia dari uang warisan itu. Fatimah memanfaatkannya untuk membangun sebuah masjid bagi komunitasnya, yaitu Masjid Qarawiyin. Masjid yang dibangun pada 859 Masehi dan diyakini sebagai yang tertua di dunia digunakan pula sebagai universitas.

Mahasiswa dari seantero dunia banyak berdatangan ke sana untuk menimba ilmu tentang astronomi, bahasa, dan sains. Melalui universitas tersebut, angka Arab kian dikenal dan banyak digunakan di Eropa. Fatima telah melakukan langkah penting memajukan peradaban dan pendidikan.

Perempuan lainnya adalah Dhayfa Khatun. Ia merupakan istri penguasa Aleppo, Suriah, Al Zahir Ghazi. Ayahnya adalah Raja Al Adel, saudara laki-laki Salahuddin Al Ayyubi. Dengan kekuasaan dan kekayaannya, ia mewujud menjadi seorang penderma.

Sebuah yayasan ia bentuk untuk memberikan bantuan kepada para fakir miskin. Ia pun memberi dukungan dana bagi para saintis. Untuk memajukan pendidikan di wilayahnya, ia mendirikan dua lembaga pendidikan, yaitu Al Firdaous, sekolah yang khusus didirikan untuk kajian studi Islam dan hukum Islam.

Lokasi Al Firdaous berada di dekat Bab Al Makam, Aleppo. Sekolah tersebut memiliki tujuh unit bangunan, termasuk aula tempat tinggal para siswa dan sebuah masjid. Sementara itu, lembaga pendidikan lainnya adalah Khankah yang digunakan untuk studi syariah dan bidang lainnya.

Di Turki, ada Hurrem Sultan yang lahir pada 1500 Masehi. Ia merupakan istri penguasa Turki Usmani, Suleyman Agung. Selama hidupnya, ia fokus pada kegiatan sosial dan pendirian sejumlah lembaga, termasuk sebuah kompleks masjid di Istanbul dan kompleks Haseki Kulliye.

Kompleks Kulliye ini terdiri atas sebuah bangunan masjid, madrasah, sekolah, dan dapur umum. Ia pun membangun cifte hamam, pemandian yang memiliki bagian untuk perempuan dan laki-laki, dua sekolah, dan sebuah rumah sakit khusus perempuan.

Di Makkah, ia membangun empat sekolah, sedangkan di Yerusalem dibangun satu sekolah. Hurrem Sultan meninggal dunia pada April 1558 dan dimakamkan di pemakaman Masjid Suleymaniye.

sumber : Mozaik Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA