REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarawan Muslim dari abad ke-15, Al-Qalqashandi, memuji Mesir sebagai negeri dengan peradaban Islam yang memukau. Menurut dia, sebagaimana terangkum dalam buku Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia (2006), Mesir juga menjadi tempat bagi tumbuhnya budaya literasi.
Salah satu contoh terkemuka adalah Perpustakaan Dar al-‘Ilm. Letaknya dalam kompleks Universitas al-Azhar di Kairo, Mesir. Pelopornya adalah Dinasti Fatimiyyah.
Sejak awal, para sultan Fatimiyyah mendirikan perpustakaan itu dalam konteks persaingan dengan Dinasti Abbasiyah. Bila Baghdad--pusat Wangsa Abbasiyah--mampu menjadi permata peradaban, mengapa Kairo tidak?
Kunci kemenangan fastabiqul khairat ini terletak pada peningkatan mutu perpustakaan. Maka berdirilah mula-mula Masjid Al-Azhar pada 971 sebagai pusat aktivitas keagamaan dan keilmuan.
Awalnya, nama masjid tersebut bukanlah al-Azhar, melainkan Jami’ al-Kahhirah. Institusi ini kemudian dinamakan al-Azhar supaya nisbahnya sampai kepada putri Rasulullah SAW, Fatimah az-Zahra.
Kegiatan akademis di Masjid Al-Azhar berlangsung empat tahun sejak pendiriannya. Kuliah perdana disampaikan Abu hasan Ali bin Muhammad bin an-Nu'man selaku kadi tertinggi Dinasti Fatimiyah kala itu. Wangsa tersebut kemudian terimbas geger politik, sehingga tergantikan oleh Dinasti Ayyubiyah.
Pada masa transisi, Universitas Al-Azhar sempat redup, tetapi kembali hidup pada era pemerintahan Ayyubiyah. Perpustakaan memegang fungsi yang amat penting dalam sistem pengajaran di al-Azhar, yang berupa lingkaran studi di dalam masjid (halaqah), diskusi-diskusi (niqasy), dan dialog (hiwar).
Nama perpustakaannya adalah Dar al-‘Ilm. Penyelenggaraan Dar al-‘Ilm sesungguhnya telah berlangsung sejak era Khalifah al-Hakim dari Dinasti Fatimiyyah. Dia pula yang merintis kegiatan donasi, yang berupa ribuan buku dari rumah pribadinya untuk Dar al-‘Ilm.
Perpustakaan tersebut dibuka untuk umum. Katalog bertahun 435 hijriah (1045 M) menunjukkan, Dar al-’Ilm mengoleksi sebanyak 6.500 buku bertema astronomi, arsitektur, dan filsafat.
Pada zaman pemerintahan Al-Muntasir (1036–1094), perkembangannya mulai begitu pesat. Ketika Dinasti Fatimiyyah runtuh, penggantinya hendak menjual semua warisan penguasa terdahulu itu, termasuk buku-buku di Dar al-‘Ilm.
Beruntung, al-Fadhil al-Basyani berhasil menyelamatkan banyak koleksi dari perpustakaan itu. Kadi Dinasti Ayyubiyah itu sampai-sampai mesti membeli kembali buku-buku yang sempat terjual di pasaran.
Semua upaya itu dilakukannya lantaran rasa cinta terhadap dunia literasi. Selain itu, al-Basyani juga berjasa menyumbang sekitar 100 ribu buku ke pelbagai madrasah Al-Fadhiliyah yang didirikannya. Pencinta buku lainnya di Kairo adalah Abdus Salam al-Qazwni.
Koleksi pribadinya mencapai 40 ribu buku, yang di antaranya merupakan hasil pembeliannya dari istana Dinasti Fatimiyyah. Bahkan, sumber Abu Shama menyebut jumlah koleksinya mencapai dua juta buku!