Jumat 22 Feb 2019 19:40 WIB

Gus Sholah: Mendata Pesantren dan Boarding School Itu Wajar

Ada boarding school mengaku pesantren namun prinsip-prinsip pesantren tak dijalankan.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Andi Nur Aminah
Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Solahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Solahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam berencana akan melakukan pemetaan antara pesantren dan boarding school di Indonesia. Pemetaan ini dilakukan terkait beberapa boarding school ada yang mengaku sebagai pesantren namun tidak menjalankan prinsip-prinsip yang dimiliki pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), menyebut sah-sah saja jika Kemenag ingin melakukan pendataan tersebut. Dua-duanya dinilai sama-sama baik dengan porsi masing-masing.

Baca Juga

"Memetakan ini bagaimana ya? Kalau sekadar didata ini tidak masalah. Buat saya kalau pendataan begitu tidak masalah. Tapi dua-duanya sama-sama baik. Bukan berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Tergantung dari mutunya masing-masing," ujar Gus Sholah kepada Republika.co.id, Jumat (22/2).

Ia menyebut, pesantren dan boarding school memang ada perbedaan mendasar. Di asrama, pendidikan agama yang diberikan tidak semendalam pesantren. Pun siswanya tidak diperkenalkan perihal kitab kuning yang menjadi unsur rukun pesantren.

Meski begitu, antara pesantren dan asrama sama-sama memiliki mutu pembelajaran yang baik. Di Indonesia, menurutnya, jumlah pesantren lebih banyak dibandingkan boarding school.

"Sistem pendidikannya saja yang berbeda. Waktu saya masuk Tebu Ireng tahun 2006, saya melihat ini belum lengkap sebagai pesantren. Makanya 2008 kita mendirikan Madrasah Mualimin, disini hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama. Tidak ikut kurikulum nasional," lanjutnya.

Di SMA Tebu Ireng, Gus Sholah menyebut belajar mengajinya cukup lumayan. Mereka diajari untuk mengetahui fikih dengan baik, serta bisa membaca Alquran dengan lancar.

Siswa-siswinya pun diajarkan untuk membaca kitab kuning walaupun tidak lancar. Ditambah mereka bisa menghafal surat-surat pendek, minimal juz 30.

Rencara Kemenag melakukan pemetaan ini juga berhubungan dengan kasus pemukulan santri yang terjadi di sebuah pesantren di Tanah Datar, Sumatra Barat yang berbuntut kematian. Tidak ingin kecolongan lagi, Kemenag berencana melakukan pengawasan lebih intensif.

Menanggapi kasus ini, Gus Sholah mengingatkan agar kasus seperti ini bisa dicegah dan tidak terjadi lagi. Penegakan kedisiplinan harus dilakukan agar santri juga lebih disiplin dan mematuhi aturan.

"Di Tebu Ireng, santri mukul diberi peringatan keras dan kalau dilakukan ulang, dia dikeluarkan. Kami melarang tindakan kekerasan. Ditegakkan disiplin. Satu kamar ada ustaz yang menjadi pembina. Dia membimbing santri di kamar. Dia pengganti wali kelas dan pengawasan terhadap santri selalu ada 24 jam," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement