Senin 28 Jan 2019 16:59 WIB

ACT Dampingi Anak Malanutrisi di Lombok dengan BeGiTu

Bengkel gizi terpadu membantu memperbaiki gizi anak-anak.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Dwi Murdaningsih
Anak malnutrisi (ilustrasi).
Foto: guardian.co.uk
Anak malnutrisi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Satu per satu anak-anak itu, datang untuk mendapat layanan penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan. Mereka adalah anak yang sebelumnya telah terdata sebagai penderita gizi buruk dan gizi kurang yang memerlukan pendampingan rutin untuk memulihkan kondisi kesehatannya. 

Akhir pekan lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melanjutkan kembali program pemulihan pascagempa Lombok, terutama perihal layanan kesehatan. Program pendampingan kesehatan khususnya urusan gizi ini punya nama Bengkel Gizi Terpadu atau BeGiTu. Kali ini, program pendampingan dilakukan di Aula Kantor Kecamatan Sembalun, Lombok Timur pada Sabtu (19/1). 

Sekitar 53 anak dari 106 yang terdata, hadir sebagai pasien yang mendapat pendampingan gizi dari BeGiTu ACT. Sisanya yang tidak hadir adalah anak dari Desa Bilok Perung dan Sajang. 

Mereka tidak hadir karena akses jalan sedang diperbaiki, sebelumnya jalan penuh lumpur dan becek sehingga jalur transportasi sebagian besar lumpuh. "Namun, bukan berarti anak yang tidak hadir tidak mendapat pendampingan, tim telah datangi rumah mereka satu per satu beberapa waktu sebelumnya," ujar Koordinator BeGiTu ACT, dr. Muhammad Riedha Bambang, dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Senin (28/1).

Pemulihan gizi terhadap anak-anak di Lombok, menurut dr. Riedha, membutuhkan peran banyak pihak. Lewat program BeGiTu, ACT juga bekerjasama dengan pihak Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat sebagai elemen pemerintahan yang memiliki kebijakan dalam melayani masyarakat, terutama perihal kesehatan.

Dengan adanya kolaborasi ini, ACT berharap bisa membentuk masyarakat sehat dan mandiri. Pemulihan gizi buruk dilakukan secara terpadu, partisipatif, dan berbasis sumber daya lokal. Baik dari ACT maupun Puskesmas bersama-sama berusaha menyelamatkan masyarakat dari ancaman kematian dan kecacatan akibat gizi buruk.

Riedha menyebut aksi layanan yang digelar Sabtu (19/1) kemarin merupakan intervensi kedua dalam program BeGiTu ACT. Untuk jangka panjang, Tim BeGiTu ACT akan memberikan edukasi secara rutin dan pemberdayaan kepada masyarakat lewat program kelompok usaha masyarakat.

"Kami telah menyiapkan beberapa penyuluhan, antara lain perihal Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyediaan menu bergizi, sanitasi dan kesehatan lingkungan, serta air bersih dan kesehatan keluarga. Kami juga akan melakukan pemberdayaan lewat berbagi ilmu bisnis sekaligus modal usaha, sehingga mereka bisa mandiri memenuhi kebutuhan hidup," ujar Riedha.

Dana untuk kelangsungan program BeGiTu sendiri diperoleh dari donatur yang berzakat di Global Zakat ACT, baik publik maupun kemitraan. "Kami berharap ke depannya dananya (yang dihimpun via Global Zakat ACT) bisa digunakan untuk mengedukasi masyarakat dengan program kelompok usaha masyarakat, sebab BeGiTu juga bertugas sebagai pemberi edukasi dan pemberdayaan," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement