Kamis 24 Jan 2019 17:27 WIB

Komunitas Muslim Hidup Damai di Panama

Muslim panama temukan keramahan dan saling menghormati.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko
Umat Muslim di Panama
Foto: IST
Umat Muslim di Panama

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Pensiun Global Tahunan Kehidupan Internasional tahun ini mencantumkan Panama di puncak destinasi yang diinginkan. Panama memiliki sejarah panjang dari kehidupan asal hingga menjadi modern seperti saat ini.

Pada 1501, Rodrigo de Betides asal Spanyol mendarat di sisi Karibia. 18 tahun kemudian, 1.500 pemukim Spanyol telah mendirikan pemukiman Eropa tertua di pantai Pasifik Amerika di dekat Kota Panama saat ini.

Selama lebih dari 300 tahun, Spanyol memerintah Panama. Perjuangan untuk mendapatkan kendali atas negara-negara Amerika Tengah berlanjut selama beberapa dekade.

Pada 1821, Panama memperoleh kemerdekaan dari Spanyol, tetapi hanya untuk bergabung dengan Kolombia pada tahun yang sama. Pada 1846, Amerika Serikat dan Kolombia menandatangani perjanjian yang mengizinkan AS untuk membangun kereta api di seluruh negeri.

Islam mencapai Panama pada abad ke-16 melalui budak-budak Afrika yang dibawa bekerja di tambang. Orang-orang Spanyol yang berkuasa mencoba mengendalikan masuknya umat Islam. Kemudian, pada abad ke-20 Muslim dari negara-negara benua dan Arab memadati Panama dan berlanjut hingga sekarang.

Ahmad Bhattay dari Panama City mengatakan, sekitar 500 Muslim melaksanakan shalat Jumat di masjid Jama di ibu kota. Pada 1881, Prancis memprakarsai Kanal Panama buatan sepanjang 51 mil yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Namun, medan yang sulit dan penyakit pembunuh, memaksa Prancis menyerah. AS mengambil alih dan membuka kanal pada Agustus 1914, hal itu secara drastis mengurangi waktu berlayar antara kedua samudera.

Panama diperintah oleh beberapa negara. Tetapi, mereka akhirnya memperoleh kemerdekaan pada 1903. Setelah merdeka, Panama memberi AS kendali atas Zona Kanal Panama dan AS juga menempatkan pasukannya di zona itu. Panama mendapatkan kembali komando wilayah itu pada 1999.

Seperti negara-negara Amerika Selatan lainnya, Panama sering menghadapi intervensi AS. Terakhir, negara ini mengikuti dugaan dan pernyataan AS bahwa penjahat dan pengedar narkoba menggunakan Panama untuk menyelundupkan narkoba ke AS.

Seperti di negara-negara Amerika lainnya, penduduk asli Panama terpinggirkan oleh pendatang baru. Mereka bertahan hidup, tetapi memiliki sedikit kekuatan di negara mereka sendiri.

Saat ini, populasi Panama adalah sekitar 65 persen Mestizo (campuran asli, putih), sekitar 13 persen putih, dan 10 persen hitam. Selama perdagangan budak Atlantik, orang Eropa menculik ribuan orang Afrika dari rumah mereka dan menjual mereka sebagai budak di Amerika Selatan dan Amerika Serikat.

Sekitar setengah dari penduduk Panama berasal dari Afrika. Imigran dari banyak negara, termasuk Arab dan Asia, juga datang ke Panama dan terus melakukannya, membuat Panama negara yang benar-benar beragam.

Tetapi, alih-alih ketegangan rasial, Seorang pensiunan jurnalis Kanada sekaligus pegawai negeri sipil dan hakim pengungsi, Mohammed Azhar Ali Khan mengungkapkan di Panama ia justru menemukan keramahan, saling menghormati, dan akomodasi. Di dunia yang bermasalah, Ali memandang hal itu adalah prestasi yang mengesankan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement