Sabtu 10 Nov 2018 15:46 WIB

Maulana Gelar Haul dan Dialog Kebangsaan

Umat beragama diminta menjaga dan merawat kebersamaan bangsa.

Majelis Ulama & Umara Nusantara (MAULANA) gelar Haul untuk Para Pendiri Bangsa dan Dialog Kebangsaan di Gedung Joang 45, Jakarta, Jumat (09/11) malam.
Foto: istimewa
Majelis Ulama & Umara Nusantara (MAULANA) gelar Haul untuk Para Pendiri Bangsa dan Dialog Kebangsaan di Gedung Joang 45, Jakarta, Jumat (09/11) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Majelis Ulama & Umara Nusantara (MAULANA) mengelar Haul untuk Para Pendiri Bangsa dan Dialog Kebangsaan di Gedung Joang 45, Jakarta, Jumat (09/11) malam. Acara ini dihadiri ratusan jamaah dan  berbagai lapisan masyarakat. 

Hadir sebagai narasumber Ketua Masjid Raya KH Hasyim Asy'ary, KH Zuhri Yakub, Pengasuh Ponpes Misbahul Munir, KH Misbachul Munir, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Bante Damakaro. 

“Kami menggelar acara ini untuk mengenang jasa para pahlawan, para pendiri bangsa, dan para pejuang yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan negara  yang kita cintai ini, ” ungkap Ketua Umum MAULANA, KH Nurul Yaqin Ishak, dalam siaran persnya, Sabtu (10/11).

Kita bisa bilang, lanjut dia, dengan jiwa besar Almaghfurllah KH Abdul Wahid Hasyim merelakan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga dan memelihara keutuhan bangsa dan negara. 

 

"Kemerdekaan kita ini bukan hadiah dari Jepang atau Belanda tetapi kemerdekaan NKRI ini dengan tetesan darah, pengorbanan jiwa dan raga, itu sebabnya kita mempunyai kewajiban menjaga dan merawat bangsa ini," pungkas Inisiator MAULANA, KNY.

Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Bante Damakaro yang turut hadir sebagai narasumber juga mengajak masyarakar Buddhis untuk menjaga dan memelihara persatuan dan keutuhan Indonesia dengan cara saling tolong menolong,

“Kami kaum Buddha sangat  menyadari bahwa kami sangat minoritas sangat sedikit, namun kami selalu mengarahkan meski sedikit kami terus ingin berperan semampu kami, seperti halnya kami lakukan memberikan bantuan korban bencana  di Lombok dan Palu, yang kami tekankan kepada masyarakat buddhis, mari inilah cara kita berperan aktif untuk menjaga dan melestarikan kebersamaan untuk mewujudkan Indonesia yang kita harapkan dan kita inginkan yaitu dengan saling menolong,” Kata Bante

Ketua Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, KH Zuhri Yakub menggambarkan situasi saat ini sama dengan kondisi pada tahun 1957. "Buat kita orang-orang NU, NKRI harga mati, kita ini sedang diutak atik dan ini menjadi ancaman serius bagi bangsa,“ katany.

Kondisi ini persis seperti tahun 1957 terancam perpecahan sebagai sebuah bangsa dan ini menjadi pengulangan sejarah.

“Ini ujian bagi kita maka menjadi penting memperingati hari pahlawan kita bisa mengambil tauladan bagaimana menghargai orang lain toleran dengan perbedan, hidup berdampingan secara damai dan mengambil semangat dalam perjuangan," Tegasnya

Kalau tidak, Kiai Zuhri melanjutkan, konflik-konflik besar bisa saja terjadi dan ini mengancam keutuhan kita sebagai bangsa Ini persoalan serius, permasalahan ini sudah menyentu pada ideologi.

"Kita sedang menghadapi dua masalah besar permasalahan kebangsaan dan kaumatan, permasalahan kebangsaan baik di dalam negeri dan dari luar negeri yang harus kita hadapi, permasalahan keumatan bentrok antar umat beragama dan antarintenal agama itu sendiri. Maka ini adalah persoalan keumatan setiap tokoh agama mempunyai kewajiban domainya para pemimpin agama. Kita selaku umat dan masyarakat mari kita jaga keutuhan dan kebersamaan kita dalam merawat bangsa dan negara Indonesia," pungkasnya

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement