REPUBLIKA.CO.ID, Meskipun jumlah rakaatnya jauh lebih sedikit, namun kekuatan untuk menahan godaan melalaikan shalat Subuh, nyatanya cukup berat. Maka, Allah SWT juga memberikan keistimewaan bagi hamba-Nya yang berhasil menunaikan sholat shubuh, terlebih jika dilakukan secara berjamaah atau di masjid (bagi laki-laki).
"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)". (Qs. Al-Isra: 78)
Selain itu, Rasulullah juga mengungkapkan kelebihan lain dari shalat Subuh. Rasul bersabda,"Barangsiapa yang shalat subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu jangan sampai Allah menuntut sesuatu kepada kalian dari jaminan-Nya. Karena siapa yang Allah menuntutnya dengan sesuatu dari jaminan-Nya, maka Allah pasti akan menemukannya, dan akan menelungkupkannya di atas wajahnya dalam neraka jahannam". (HR. Muslim no. 163)
Sebuah komunitas Muslimah bernama Pejuang Subuh, sangat menyadari keutamaan shalat Subuh dan mengajak para Muslimah untuk membiasakan diri shalat Subuh di awal waktu. Bendahara Yayasan Pejuang Subuh Indonesia (YPSI) Novita Ismail mengatakan, pembiasaan ini memang tidak mudah dan memeliki tantangan tersendiri.
"Perjuangan buat para akhwat sebenarnya bisa dibilang susah-susah gampang" ujar Nofita Ismail, yang juga menjabat sebagai penggerak Pejuang Subuh Akhwat.
"Jika keinginan dari para gadis muslimah untuk memperbaiki diri kuat, pasti akan terasa mudah" lanjut wanita yang akrab disapa Vita ini.
Ketika ditanya tentang kesulitan ketika membangunkan Subuh, Vita mengaku, banyak Muslimah yang berlomba-lomba bangun untuk shalat malam, namun justru gagal untuk bangun kembali saat waktu Subuh tiba.
"Contohnya, Ukhti ini, untuk ibadah Qiyamul Lail sudah tidak diragukan lagi, tapi setelah itu dia ketiduran dan baru bangun pukul 05.30 WIB. Ya artinya sudah lewat waktu Subuh" tuturnya sambil terkekeh.
Selain itu, kendala lain yang ditemui adalah bidadari gagal audisi. Ini merupakan julukan bagi Muslimah yang terbiasa tidur larut malam dan sulit untuk dibangunkan shalat Subuh. Namun, permasalahan yang paling banyak ditemui adalah kebisaan tidur setelah menunaikan shalat Subuh.
"Kebiasaan ini memang tidak baik, karena setelah subuh itu waktu yang tepat untuk mulai beraktivitas, seperti olahraga atau lainnya," kata dia.
Pejuang Subuh Akhwat mempunyai target 30 hari shalat Subuh di rumah. Jika ada halangan atau menstruasi, maka tetap diwajibkan lapor ke mentor. Anggotanya, bukan hanya perempuan yang belum menikah, namun juga para wanita yang telah berumah tangga.
Menurut Vita, tak mudah menjadi istri Pejuang Subuh, karena tak hanya harus mengurus urusan keluarga. Para istri juga harus menyemangati suami dan anak-anaknya ketika sedang malas bangun pagi. Seperti yang dialami Dede Syarifah, istri dari Miskam Ayla yang merupakan Ketua Yayasan Pejuang Subuh Indonesia. Dede dan Miskam sendiri telah dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Ibra (3 tahun) dan Arwa (setahun).
"Setiap hari harus mengurus kebutuhan suami dan anak-anak. Apalagi suami saya tak hanya bekerja, tapi juga berdakwah. Ya dinikmati saja" ujar Dede.
"Pejuang Subuh, terutama para istri mempunyai peran strategis, yaitu sebagai pendamping dalam menjalankan dakwah, sekaligus tempat berbagi dalam suka dan duka," kata Dede.
Pejuang Subuh Akhwat saat ini sudah mulai tersebar di berbagai chapter Pejuang Subuh di Tanah Air. Komunitas ini juga memiliki tujuan untuk melahirkan keluarga harmonis serta mencetak generasi tangguh bagi negara dan agama.




