Sabtu 20 Jan 2018 16:16 WIB

Petualangan Ibnu Fadhlan ke Rusia

Kunjungan itu dituliskan Ibnu Fadhlan begitu detail.

Rep: A Syalaby Ichsan/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi rombongan Ibn Fadhlan
Foto: saharamet.org
Ilustrasi rombongan Ibn Fadhlan

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Layaknya ilmuan pada masa kejayaan Islam, Ahmad bin Fadlan me nyumbang kontribusi bagi fondasi bangsa Rusia. Heroisme Ibnu Fad lan bahkan dikenang dalam sebuah film Holly wood, the 13th Warrior yang pernah di rilis pada 1999. Tak tanggung-tanggung, ak tor kawakan Antonio Banderas memerankan tokoh Ibnu Fad lan.

Dalam film ini, Ibnu Fad lan digam bar kan sebagai seorang yang pemberani, cerdas dan mahir berbahasa. Sosok Ahmad bin Fadlan bukanlah tokoh rekaan. Dialah seorang negara wan, pakar hukum Islam, sekaligus il mu wan yang menjadii pejabat tinggi Kha lifah Bani Abbasiyah, Al-Muqtadir Billlah. Ibnu Fadlan ditugaskan untuk pergi ke kawasan Rusia untuk meme nui undangan Kaisar Bulgaria Khan Almuch (Al mos) pada 921.

Sang kaisar meminta kepada khalifah untuk mengirim sebuah delegasi yang bisa menjelaskan prinsip-prinsip ajaran Islam. Kaisar ini pun me mohon ban tuan finansial untuk membangun masjid dan benteng-ben teng untuk me lindungi dan mem pertahan kan diri dari serangan-serangan penguasa Kazar yang berhaluan Yahudi. Ibnu Fadlan pun diutus di dalam delegasi tersebut ke negeri Beruang Merah.

Ibnu Fadlan berangkat bersama anggota delegasi lain dari Baghdad pada 11 Shafar 309 Hijriyah. Delegasi ini me nem puh perjalanan menuju dataran ting gi di wilayah timur dan utara melewati berbagai wilayah pe gunungan. Mereka berjalan melalui Ha ma dzan, Rayy dekat Teheran, lalu menyeberangi Sungai Jay houn hingga mencapai Samarkand. Dari Samarkand, perjalanan dilanjutkan me nuju Bu khara, lalu menuju Khawarizm melewati wilayahwilayah lagor Turki.

Perjalanan kemudian berlanjut sam pai ke Sungai Volga. Pada akhirnya, mereka pun bertemu dengan penguasa Slavia pada 12 Muhar ram 310 M. Delegasi ter se but me makan waktu perjalanan sebe las bulan hing ga mencapai Kerajaan Bul garia di selatan Rusia. Selama perjalanan tersebut, Ibnu Fadlan pun mencatat me moar yang men jadi satu-satunya sum ber penulisan sejarah Ru sia, Bulgaria, dan Turki.

Dalam manuskrip tersebut, Ibnu Fadhlan berki sah dengan detail tentang kaum lelaki dalam tradisi dan budaya mereka, keduduk an perempuan di anta ra mereka, situasi dan kondisi penduduk serta mata pencaharian mereka, adat istiadat dan tradisi mereka dalam me ngu burkan jenazah. Ibnu Fadhlan pun menceritakan bagaimana keyakinan mereka berkaitan dengan Tuhan.

Pada satu memoarnya, Ibnu Fadhlan bercerita, "Apabila mereka berhasil me nang kap pencuri atau perampok, maka mereka meng giringnya ke sebuah pohon besar dan kemudian lehernya diikat dengan tali dan rantai. Lalu menggantungnya pada pohon tersebut. Pencuri itu terus tergantung di atas pohon hingga anggota dan organ tubuhnya tercabik-cabik oleh angin dan hujan."

Ahmad Fadhlan pun menceritakan de ngan detail kebiasaan primitif penguasa dalam buang air. "Sang penguasa tidak turun dari tempat tidurnya. Apabila ingin buang air besar maupun kecil, maka ia membuangnya di dalam teko. Apa bila ingin mengendarai ken dara an nya, maka mereka mendatangkan ken daraannya itu ke tempat tidur. Lalu ia mengendarai nya dari atasnya. Apabila ingin turun, maka ia mendatangkan ken daraannya dan turun di atasnya."

Ada juga kisah tentang berbagai ri tual dan upa cara khusus kematian di Rusia. Me reka membuat ritual dalam menangani jena zah para pemimpin. Di antaranya adalah mem bakarnya. ".. Aku ter tarik untuk me nyak sikan hal itu, hing ga aku mendapat in for masi mengenai se orang lelaki terhormat di antara me reka yang meninggal dunia. Ke mudian mereka memasukkannya ke dalam ku burannya dan mendirikan tenda selama sepuluh hari berturutturut hingga me reka usai memotong pakaianpakainnya dan menjahitnya."

Ibnu Fadhlan menjelaskan, jenazah orang fakir akan mendapat perlakuan ber beda. Mereka akan dibuatkan sebuah perahu kecil. Jenazahnya lalu dimasuk kan di dalamnya kemudian dibakar ber sama perahu itu. Sedangkan, jika ada orang kaya meninggal, mereka akan mengumpulkan hartanya lalu dibagi dalam tiga bagian. Sepertiga untuk ke luarga, sepertiga untuk menyediakan pa kaian, dan sepertiga tersisa untuk mem buat anggur yang mereka minum ketika budak perempuannya bunuh diri. Budak itu lantas dibakar bersama ma jikannya dengan penuh kebahagiaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement