Senin 15 Jan 2018 17:00 WIB

Ini Perbedaan Seni Pembuatan Karpet Persia dan Turki

Karpet Persia.
Foto: Reuters/Morteza Nikoubazl
Karpet Persia.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Bagi Bangsa Persia, tidak ada yang bisa menyamai ber sar nya pengaruh Ottoman pada karpet mereka. Persia punya sejarah panjang karpet sejak zaman Di nasti Sassanid sebelum munculnya peradaban Islam. Bukti produk si karpet Muslim Persia dite mukan pada abad ke-15 M melalui ilustrasi dan lukisan miniatur. Pola pusat karpet berbentuk segi empat dido minasi medali. Bagian pinggir me rupakan pilinan beberapa vasiasi bentuk dan luas.

Karpet juga menjadi hadiah ber harga dan dijadikan cinderama ta selama misi diplomatik ke Eropa. Selama pemerintahan Shah Abbas I (1587-1629), karpet Persia diekspor melalui Jalur Sutra. Karpet menjadi sumber utama pendapatan dan kemakmuran Dinasti Safawi (1501- 1722). Karpet juga diproduksi mas sal karena banyaknya pesanan dari Eropa. Pembuat karpet kemudian menjadi seniman profesional. Mereka menggambarkan pola sebelum mengaplikasikannya pada tenun.

Perbedaan karpet Turki dan Persia adaah bentuk simpul dan tek nik. Pada karpet Turki sama de ngan teknik simpul Ghiordes di Anatolia, yaitu benangnya dua kali di lingkarkan berdekatan. Pola diakhiri pada lingkaran yang berde katan. Untuk karpet Persia, benang wol dilingkari pada bentuk tunggal. Pola yang dibuat diakhiri pada bentuk ini dan pola selanjutnya ber akhir pada bentuk lain.

Dekorasi desain Turki kaya de ngan pola tumbuhan dan menggu na kan banyak pewarna. Sementa ra, pada gaya Persia lebih berani menggunakan pola manusia dan he wan, sesuatu yang ditabukan oleh Turki. Pola Persia juga sering menggunakan elemen alam, meng gunakan paduan yang halus dengan war na merah dan biru.

Kedatangan karpet ke Eropa awalnya akibat Perang Salib pada abad ke-13 dan 14 M. Pasukan Ero pa yang mengagumi keindahan kar pet akhirnya memperkenalkan benda seni itu ke kampung halaman. Sebelumnya, invasi pasukan Islam ke wilayah Eropa Timur juga telah membawa seni pembuatan karpet ini. Akhirnya, karpet menjadi semakin terkenal setelah dipopulerkan oleh Raja Prancis King Louis IX pada 1277. Sejak saat itu, pesanaan karpet dari Eropa terus mengalir. Konsumen Eropa bahkan menginginkan desain karpet sesuai keinginan kepada seniman karpet Timur Tengah. Pada masa ini, bah kan Yesus dan Bunda Maria pun di lukiskan sebagai motif karpet.

Pada abad ke-15, kepemilikan atas karpet Timur Tengah sudah men jadi simbol status sosial seseorang. Para bangsawan banyak yang dilukis dengan latar belakang karpet buatan Turki. Kebutuhan karpet di Eropa juga dilatari ketidakrapian penutup lantai sehingga menimbul kan goresan pada lantai. Manuskrip di Istana Lambeth di London yang berjudul “The Dictes and Sayings of the Philosophers” melukiskan Raja Edward ke-4 (1461-1483) sedang duduk di ruangan yang penuh penu tup lantai tidak rapi berwarna hijau terang. Penutup lantai itu kemudian diganti setiap hari atas perintah Cardinal Wolsey. Pada 1570, akhirnya industri penenunan karpet diperkenalkan di Inggris untuk menggantikan karpet Persia yang mahal.

Pada abad ke-16, industri karpet mulai tumbuh di Cina selama Dinasti Manchu, atau dikenal de ngan Dinasti Qing. Sebaliknya, industri karpet maju pesat di masa Di nasti Safawi di Persia. Salah satu mahakarya saat itu adalah karpet Ardabil yang ditaburi berbagai macam perhiasan. Karpet itu kini disimpan di Museum Albert dan Victoria di London.

Namun, kejayaan karpet Persia sempat mengalami redup saat terjadi invasi Bangsa Afghan pada 1722. Selanjutnya, seni karpet dilanjutkan oleh Akbar, penguasa Dinasti Moghul di India dengan mem- bawa penenun Persia dari wila yah Kashan, Isfahan, dan Kerman. ¦

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement