Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Thursday, 3 Rajab 1441 / 27 February 2020

Belajar Kitab

Jalan Pencari Tuhan

Kamis 04 Jan 2018 14:45 WIB

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko

Alam semesta

Alam semesta

Foto: http://scitechie.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Naluri spiritual manusia pasti berhasrat untuk menjumpai Yang Ilahi. Hasrat yang kerap disebut sebagai eros religious atau hasrat keagamaan ini tak bisa dinafikkan. Siapa pun akan memiliki hasrat tersebut untuk merasakan yang Ilahi.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menjelaskan tujuh jalan untuk menuju Allah dalam bukunya Mi'rajus Salikinyang berarti perjalanan salikatau pencari kebenaran. Masing-masing tingkatan dijelaskan berdasarkan argumentasi tersendiri. Kemampuan sang Imam menyusun dalil diakui umat Islam di zamannya, sehingga dia diberi gelar dalil/argumentasi Islam yang dalam bahasa Arab disebut hujjatul Islam.

Mi'raj merupakan bagian dari kumpulan risalah singkat al-Ghazali atau Majmuatur Rasailal-Ghazali. Bagian pertama berbicara mengenai tahapan menuju Allah. Manusia selalu dihalangi oleh hijab, sehingga sulit untuk sampai kepada Yang Ilahi. Ada banyak hijab, salah satunya adalah keyakinan sesat. Sang Imam mengutip firman Ilahi, Aw kazhulumatin fi bahrin lujjiyyin. Artinya seperti kegelapan di laut yang dalam.

Bagi sang imam, ayat ini menjelaskan tentang keyakinan-keyakinan yang salah sebagai kegelapan. Keraguan yang datang silih berganti kedalam hati diibaratkan sebagai ombak yang saling berkaitan di lautan.

Agar dapat mencapai ma'rifatullah, pengetahuan Allah, maka seseorang dapat mendalami dan menghayati alam. Di dalamnya terdapat makna ilahiah. Orang- orang berakal dapat memahami berbagai fenomena yang ada di alam, yang menunjukkan keagungan Sang Pencipta. Karena itulah Allah berfirman, Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi (QS Yunus (10) ayat 10).

Bagian ini juga menjelaskan tentang tubuh manusia beserta masing-masing fungsinya yang berkaitan dengan pencernaan. Al-Ghazali menjelaskan bagai mana gizi yang terkandung dalam makanan dicerna oleh organ-organ tubuh.

Pada bagian kedua, Abu Hamid menjelaskan tentang jiwa manusia. Pada bagian ini dia menjelaskan sikap tegasnya yang menolak pemikiran tentang jiwa manusia yang abadi. Dia tetap pada pendirian bahwa yang abadi hanya Allah semata. Bahwa jiwa manusia adalah ciptaan yang bersifat sementara.

Konsep alam semesta dibahas pada bagian ketiga. Ini merupakan bab paling panjang dan mendalam. Di sini pembaca akan diarahkan sang penulis kepada pembahasan mengenai alam dalam tradisi falsafah. Ada yang beranggapan bahwa Allah menciptakan alam semesta, kemu dian membiarkannya bergerak sendiri. Pandangan falsafah yang keliru seperti Allah hanya mengetahui hal-hal umum, bukan hal partikular, dibantah di bab ini. Bahwa Allah mengetahui semuanya. Semua pengetahuan Allah sudah tersimpan di lawh mahfuz.

Teori kausalitas juga dijelaskan di sini. Allah sangat mengetahui semua sebab.Sedangkan ciptaan, termasuk di dalamnya malaikat, nabi, rasul, dan lainnya, hanya mengetahui sedikit hal tentang sebab yang ada di alam.

Allah bisa berbuat apa saja di alam ini sesuai yang dikehendaki. Sebab dan akibat tak selamanya saling berhubungan. Api belum tentu bisa membakar jika Allah mengintervensi, seperti yang dialami nabi Ibrahim yang dibakar oleh Namruj. Ternyata api tak bisa membakar sang nabi, karena intervensi ilahi.

Ini adalah bukti kekuasaan Allah atas alam semesta. Al-Ghazali menjelaskan, di mata Allah, alam adalah ibarat meja makan, yang bisa diputar-putar semaunya. Sedangkan ilmu Allah tentang segala makhluk yang detail lebih kecil dibandingkan meja makan tersebut. Perumpamaan tersebut dipaparkan sang imam untuk membantah mereka yang meremehkan kemampuan Allah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA