Senin 11 Dec 2017 09:45 WIB

Wedakarna Sesalkan Jika Ada Persekusi Ustaz Somad

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Agus Yulianto
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali terpilih Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.
Foto: www.balebengong.net
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali terpilih Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kedatangan Ustaz Abdul Somad untuk mengisi safari dakwah di Provinsi Bali sempat mendapat penolakan dari sejumlah anggota organisasi masyarakat (ormas) kepemudaan yang menamakan diri Komponen Rakyat Bali (KRB). Lini masa menilai, aksi mereka menghadang ulama asal Pekanbaru tersebut dengan cara merengsek masuk ke dalam Hotel Aston tempat Ustaz Somad menginap adalah satu bentuk persekusi.

KRB beranggotakan Laskar Bali, Banaspati, Patriot Garuda Nusantara (PGN), Perguruan Sandhi Murti, dan ormas kepemudaan lainnya. Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Bali, Arya Wedakarna menyesalkan jika dugaan persekusi di hari kedatangan Ustaz Somad di Bali itu benar-benar ada.

"Jika ada tuduhan persekusi, akan adanya hal-hal tersebut, saya sebagai anggota DPD RI juga menyesalkan. Bagaimanapun juga, aspirasi masyarakat harus disalurkan secara baik, dalam artian diplomasi, misalnya komunikasi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Bali atau ke saya sebagai anggota DPD," kata Wedakarna di Denpasar, Senin (11/12).

Senator kelahiran Denpasar, 23 Agustus 1980 ini kembali mempertanyakan panitia pengundang yang terkesan 'ngotot' mendatangkan Ustaz Somad. Ini karena ormas-ormas di Bali jauh hari sebelum acara sudah berdialog dan melakukan audiensi dengan Kepolisian Daerah (Polda) Bali, tokoh Hindu Bali, tokoh-tokoh Muslim di Tabanan.

"Kawan-kawan yang protes kedatangan Ustaz Somad jauh sebelum sampai di Bali sudah melakukan mediasi. TNI dan Polri mengawal jalannya rapat itu. Keberatan ini sudah disampaikan beberapa hari sebelum datang. Mengapa panitia lokal ngotot?" katanya.

Masyarakat Bali pada dasarnya tidak pernah menolak safari dakwah agama apapun. Anggota Komisi III DPD RI yang mengurusi bidang keagamaan ini mencontohkan Raja Salman bin Abdulazis saja disambut di Bali, termasuk kiai dan ustaz dari berbagai daerah di Indonesia.

Wedakarna pada hari kedatangan Ustaz Somad ke Pulau Dewata sedang berada di pengungsian Gunung Agung menjalankan tugasnya sebagai senator. Ia mengaku, tidak datang ke hotel karena tidak ada hubungan dengan massa penolak.

"Saya bahkan tidak tahu kejadian di hotel tersebut. Informasi ini sangat simpang siur. Saya tidak ada hubungan dengan ormas-ormas yang menolak, baik itu hubungan organisasi dan struktural. Meski demikian, mereka adalah organisasi resmi dan terdaftar di Bali," katanya.

Meski demikian, Wedakarna tak menampik dirinya mengenal organisasi-organisasi yang menolak kedatangan Ustaz Somad. Ormas-ormas yang bergabung menjadi KRB adalah ormas besar dan dilindungi Undang-Undang. Mereka mempunyai hak untuk berbicara.

"Bali ini kecil. Mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang konsisten menjaga kondusivitas di Bali," katanya.

Ustaz Somad usai mengisi safari dakwah di sejumlah masjid besar di Bali mengatakan, dirinya sebulan lalu sempat mendengar isu yang menyebut adanya penolakan atas rencana safari dakwahnya di Bali, termasuk dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan GP Ansor. Keduanya adalah badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Tak berapa lama kemudian Banser dan GP Ansor di Bali mengonfirmasi bahwa tidak ada penolakan dari pihak mereka.

"Ternyata yang menolak itu adalah Banser dan GP Ansor KW. Dari sini kita perlu belajar pentingnya klarifikasi. Jika ada yang membawa berita, jangan ditelan bulat-bulat, tapi diklarifikasi dulu," katanya.

Ustaz Somad berharap, kehadirannya bisa memupuk persaudaraaan sesama Muslim di Bali. Dia juga berharap ,persaudaraaan Muslim dengan saudara-saudara Hindu di Bali semakin erat karena pada dasarnya semua sebangsa dan setanah air. (Mutia Ramadhani)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement