Jumat 17 Nov 2017 01:15 WIB

40 Persen Dana Zakat Disalurkan ke Sektor Produktif

Rep: Binti Solikah/ Red: Agus Yulianto
Arifin Purwakananta
Foto: Republika/Maman Sudiaman
Arifin Purwakananta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sebanyak 40 persen dana zakat yang dikelola oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) kini disalurkan ke sektor ekonomi produktif. Hal itu bertujuan untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang menjadi persoalan pokok di Indonesia.

Deputi Baznas Arifin Purwakananta menjelaskan, penyelesaian masalah kemiskinan dalam program ekonomi produktif dilakukan melalui tiga pendekatan. Masing-masing, program memberikan modal kepada orang miskin melalui berbagai, saluran, program yang sifatnya meningkatkan keterampilan dan produktivitas dengan pelatihan dan pendampingan, serta program penguatan pasar dari produk-produk orang miskin tersebut.

Sampai Desember 2017, Baznas menargetkan dapat menyalurkan dana zakat sebesar Rp 6 triliun yang terdiri dari Baznas pusat, Baznas provinsi, Baznas kabupaten/kota setta lembaga amil zakat (LAZ). "Kami memperkirakan dari dana Rp 6 triliun itu sekitar Rp 3 triliun kurang sedikit itu diberikan untuk program-program ekonomi produktif," jelasnya kepada Republika, seusai acara diskusi mengenai Zakat to SDG's di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, kemarin.

Ke depan, arah pengembangan penyaluran zakat melalui program ekonomi produktif dilakukan dengan dua pendekatan. Yakni pendekatan perorangan dan pendekatan komunitas. Dalam pendekatan perorangan, Baznas memberikan bantuan kepada perorangan secara personal dalam komunitas tertentu misalnya kelompok usaha UKM tertentu.

Sedangkan pendekatan berdasarkan komunitas, dikembangkan Baznas melalui Zakat Community Development (ZCD) dimana program ekonomi produktif dikembangkan melalui program berbasis kawasan misalnya desa. Baznas telah memiliki indeks desa zakat yang kemudian semua program diarahkan untuk menyukseskan pointer desa zakat.

"Kami bertekad pada tahun ini akan menggelar 81 titik model desa zakat atau ZCD di Indonesia dan ini dilakukan seluruhnya oleh Baznas pusat dan pada waktu yang sama ZCD juga dilakukan oleh Baznas provinsi dan kabupaten/kota," ujar Arifin.

Di samping itu, penyaluran daza zakat juga diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur. Namun, Baznas tidak mengkhususkan program pengembangan ekonomi produktif khusus untuk infrastruktur, melainkan berdasarkan kebutuhan mustahik, kebutuhan komunitas maupun wilayah yang memerlukan pembangunan infrastruktur.

Arifin mencontohkan, pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro di dua desa di Provinsi Jambi. "Kami harapkan listrik di sana bisa memantik perekonomian di desa tersebut. Sehingga akan meningkatkan semangat belajar dan menumbuhkan usaha-usaha baru," ujarnya.

Selanjutnya, Baznas akan mengembangkan inovasi baru dalam penghimpunan zakat dengan mendorong program ekonomi digital lebih masif. Tahun depan, Baznas akan meluncurkan sedekah QR (barcode) dan meluncurkan zakat bitcoin untuk memudahkan anak zaman sekarang melakukan zakat sedekah kepada Baznas.

Sedangkan dari sisi penyaluran, Baznas sedang mengembangkan berbagai program yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga yang dibentuknya. Misalnya, sudah ada Baznas Tanggap Bencana, Rumah Siaga Baznas, Sekolah Cendikia Baznas.

Kemudian Baznas akan mengembangkan Baznas Mikro Finance, Baznas Community Development. "Kami juga akan melahirkan Lembaga Advokasi Baznas dan untuk bidang kedaruratan kami akan mendorong lembaga layanan aktif Baznas. Lembaga-lembaga ini diharapkan memudahkan zakat tersalurkan kepada yang membutuhkan," kata Arifin.

Technical Advisor for Innovative Financing United Nations Development Programme (UNDP), Ikhsan Modjo, mengatakan, pemanfaatan dana zakat untuk pembangunan nasional sudah sangat sangat berkembang di Indonesia. Misalnya, kontribusi dari Baznas sekitar 350 ribu dolar AS atau sekitat Rp 4,5 miliar untuk membangun fasilitas pembangkit listrik tenaga air di Jambi.

Menurutnya, di Indonesia masih ada 2.750 desa yang belum dialiri listrik, dan di Jambi ada 250 desa. "Nah ini kan kita kontribusi banget. Orang miskin di desa terpencil tapi bisa dialiri listrik karena uang zakat," ujar Ikhsan.

Dia menilai, pembangunan pembangkit listrik tersebut tidak hanya bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat. Melainkan juga manfaat tidak langsung seperti dalam bentuk pendapatan mengolah sumber daya alam dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sehingga, pengelolaan zakat ke depan bisa tetap disalurkan untuk sektor produktif dan konsumtif tergantung situasi, kondisi dan konteks dimana persoalannya. "UNDP bergerak di semuanya. Baznas luar biasa sangat progresif dalam pemikiran. Salah satu pengelola zakat yang diakui prestasinya di dunia," kata Ikhsan.

Ke depan, Ikhsan menyebutkan adanya proyek percontohan (pilot project) pengembangan zakat untuk ekonomi produktif untuk para nelayan. Misalnya pengembangan produktivitas nelayan di daerah Sumatra. "Nanti ada buat suku terpencil kita pikirkan bagaimana cara membantunya. Zakat on SDG's ini sudah dilakukan dan akan dikembangkan lagi," ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement