Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Belajar Kitab

Kategori Konsep Kewalian Ibnu Athaillah

Kamis 21 Sep 2017 22:22 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko

Kitab Kuning

Kitab Kuning

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  —Ibnu Athaillah membagi konsep kewalian ke dalam dua kategori utama. Golongan wali yang pertama ialah mereka yang memberi pertolongan kepada Allah dan rasul-Nya, waliyyun yatawallah. Kategori ini merujuk pada ayat ke-56 dari surah al-Maidah. "Dan barang siapa mengambil Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang." 

Menurut Abu al-Hasan as-Syadzili, anugerah Allah yang paling berharga bagi hamba-Nya ialah ridha terhadap ketentuan, sabar di saat cobaan mendera, tawakal kepada Allah kala kesulitan, dan bertobat kembali kepada-Nya. Bila keempat hal ini bisa terintegrasi di dalam diri seseorang melalui jalur mujahadah dengan tetap mengikuti sunah dan para imam, maka kewaliannya bisa dibenarkan.

Sedangkan, apabila jika anugerah itu muncul dari pemberian yang berasal dari kecintaan Allah terhadapnya, sempurnalah kewaliannya. Sebagaimana disebut dalam Alquran, "Sesungguhnya pelindungku ialah yang telah menurunkan al-Kitab (Alquran), dan Dia melindungi orang-orang yang saleh," (QS al-A'raf [7]: 196). 

Kategori yang terakhir ini merupakan tingkatan kewalian yang kedua, waliyyun yatawallahullah. Menurut Ibnu Athaillah, kedua derajat kewalian itu tidak bisa disamakan. Konsepsi yang pertama lebih menekankan pada hasil mujahadah dan komitmen seseorang terhadap agama. Karena itu, kategori ini lebih tepat disebut dengan kewalian mikro, wilayat assughra. 

Konsep yang kedua menitikberatkan pada rasa cinta dan perhatian yang diberikan oleh Allah untuk hamba-Nya yang terpilih. Kategori ini tidak dimiliki oleh sembarang orang, karena itu kerap diistilahkan dengan wilayat al-kubra. 

Menurut dia, klasifikasi ini cukup berdasar mengingat kata shalihin yang dimaksud di ayat ke-196 surah al-A'raf bukan sekadar kesalehan yang dimiliki kebanyakan awam, akan tetapi makna yang dikehendaki lebih mendekati makna kefanaan dan kecintaan Allah dan hamba sebagaimana yang diteladankan oleh para rasul-Nya.

Definisi ini sesuai dengan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Yusuf AS untuk dipertemukan dengan orang-orang saleh. Arti kata saleh dalam doanya itu ialah para rasul-rasul-Nya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA