Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Belajar Kitab

Mengenal Konsepsi Wali dan Kewalian

Kamis 21 Sep 2017 22:13 WIB

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko

Ilustrasi Kitab Kuning

Ilustrasi Kitab Kuning

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Satu lagi karya Ibnu Athaillah as-Sakandari. Selain magnum opusnya yang monumental, Al-Hikam, murid tokoh sufi kenamaan Syihabuddin Abu al-Abbas bin Umar al-Anshari al-Mursi itu menulis sederet kitab, antara lain At-Tanwir fi Isqath at-Tadbir, Taj al-Arus, Miftah al-Falah, dan Al-Qaul al-Mujarrad fi Ism al-Mufrad. 

Salah satu kitab Ibnu Athaillah adalah Lathaif al-Mannan. Mencermati gaya penulisan dan kualitas hasil karya Ibnu Atha, termasuk kitab Lathaif, maka akan didapati sebuah kesimpulan bahwa cara penyajian, bahasa yang digunakan, dan kecermatan penulis menyampaikan materi layak mendapat apresiasi.

Karya-karya Ibnu Atha mendapat tempat di hati para pegiat tasawuf dan cendekiawan Muslim. Sebut saja pendiri tarekat sufi As-Syadziliyah, Abu al-Hasan as-Syadzili. Ia mengatakan, apabila kitab Ihya Ulumuddin memberikan faedah dari sisi ilmu, kitab Quttu al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki mencurahkan cahaya, maka kitab-kitab Ibnu Athaillah juga demikian.  

Dalam kitab ini, Ibnu Athaillah banyak mengungkapkan hal ihwal berkenaan dengan dunia tasawuf. Dalam pemikirannnya, kedudukan wali di sisi Allah jika dibandingkan dengan kalangan awam sangatlah tinggi. Posisi itu telah dipertegas oleh berbagai teks, baik yang termaktub dalam Aquran maupun hadis. Salah satu hadis yang menguatkan tempat mulia wali di hadapan Allah ialah riwayat yang dinukil oleh Abu Hurairah. Disebutkan di hadis itu bahwa barang siapa yang memusuhi wali Allah, ia telah menyulut perang.

Kedekatan wali dengan Allah pun dipersonifikasikan dengan pengibaratan bahwa segala pembicaraan, pendengaran, dan penglihatan wali bersumber dan selalu diawasi oleh Allah. Derajat yang diperoleh wali itu merupakan buah dari mujahadah yang mereka lakukan. 

Para wali mampu menaklukkan jiwa dan nafsu mereka semata-mata untuk Allah. Atas keberhasilan itu, Allah menjadi penolong dan penjaga bagi mereka. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut: "Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya," (QS ath-Thalaq [65]: 3). 

Al-Mursi mengatakan, keterkaitan wali dengan Allah seperti anak singa dan induknya. Singa betina akan melindungi anaknya dari berbagai hal yang membahayakan, seperti ancaman dari binatang buas lainnya. Namun, hukuman bagi mereka yang memusuhi para wali Allah tidak harus datang seketika itu juga. Bisa jadi sanksi tersebut muncul di kemudian hari tanpa ia sadari.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA