Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Hijrah Membawa Perubahan

Kamis 21 Sep 2017 20:31 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Agung Sasongko

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Foto: Yogi Ardhi/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan tahun baru Islam merupakan momentum hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang sifatnya lahiriah dan juga rohaniah.

"Karena ada pergerakan dari Makkah ke Madinah yang sifatnya lahiriah karena memerlukan ketangguhan fisik. Sementara pergerakan rohani  ini merupakan prosesi perintah Allah karena Makkah sudah pada titik yang jenuh,’’ ungkap Haedar saat memberikan ceramah pada acara  rangkaian peletakan batu pertama Masjid KH. Sudjak RS PKU Muhammadiyah Gamping, Milad Muhammadiyah ke-108, Mangayobagyo kepulangan jamaah haji KBIH Aisyiyah serta Pembukaan Manasik Haji KBIH Aisyiyah tahun 1439 H, di Komplek RS PKU Muhammadiyah Gamping, Kamis (21/9).

Dijelaskan Haedar, dalam perintahnya kepada Nabi Muhammad SAW berhijrah, bermakna risalah dakwah dan pembangunan Islam dimulai. Di Madinah, Nabi Muhammad saw membangun masjid dan mempersekutukan kaum Muhajir dan Anshar. Masjid merupakan simbol peletakan dasar ketakwaan kepada Allah.

Setelah itu baru membangun umat. "Sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Ali Imron ayat 100-105. Itulah dasar-dasar dari pembinaan umat Islam,’’jelas Haedar.

 

Haedar melanjutkan, dalam hijrah ada nilai rohani yang disebut keluar dari keadaan jahiliyah yang gelap gulita pada cahaya. Jahiliyah di sini bukan semata-mata bodoh tidak bisa baca dan tulis. Melainkan juga hijrah dari hal-hal yang mengarah ke syirik dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Pada waktu itu mereka merendahkan manusia yang utuh kemudian turun berbagai ayat bahwa Allah memuliakan manusia baik laki-laki maupun perempuan . Maka dengan hijrahnya Nabi Muhammad saw jadilah Islam yang memuliakan laki-laki dan perempuan dan mengangkat derajat kamu perempuan.

Hal ini merupakan pelajaran penting  bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama dimuliakan.‘’Memuliakan perempuan sama dengan laki-laki ini merupakan murni ajaran Islam dan tidak ada kaitannya dengan teori jender dan emansipasi,’’ungkap Haedar.

Menurut Haedar, hijrah Nabi juga membawa perubahan masyarakat yang semula menyelesaikan masalah dengan kekerasan, berubah menjadi dengan perdamaian. Maka lahirlah berbagai macam usaha Nabi Muhammad swa untuk melakukan perdamaian.

‘’Dengan memasuki tahun hijrah ini, kita bisa memulai hari ini untuk berbuat lebih baik daripada sebelumnya baik dalam keluarga, masyarakat, umat dan bangsa sebagai ruh atau spirit hijrah,’’ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA