Kamis 07 Sep 2017 11:45 WIB

Ajaran Islam tidak Melarang Perempuan Berolahraga

Rep: Mgrol97/ Red: Muhammad Subarkah
Sejumlah polwan dari Sabhara Polda Metro Jaya melakukan patroli bersepeda pada hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di Kawasan Bundaran HI Jakarta, Ahad (15/1).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Sejumlah polwan dari Sabhara Polda Metro Jaya melakukan patroli bersepeda pada hari bebas kendaraan bermotor (HBKB) di Kawasan Bundaran HI Jakarta, Ahad (15/1).

REPUBLIKA.CO.ID -- “Tidak ada dalam Islam yang melarang olahraga,” kata Nadima Abulaynain, seorang gadis berusia 18 tahun yang masih bersekolah.

Abulaynain dan gadis Arab lainnya mengajak  untuk aktif  berolahraga di kehidupan sehari-hari dalam beberapa tahun terakhir. Sejak kecil ia mengakui kegemarannya dalam bersepeda. Menurutnya hal yang menarik untuk menyebarkan minatnya dan membantu orang-orang untuk mencobanya.

Aksinya ini dipicu dari laporan tahun 2014 oleh Pusat Informasi Kesehatan Nasional Kementerian Kesehatan Saudi. Laporan tersebut mengatakan bahwa hanya 29 persen wanita di Arab Saudi yang melakukan olahraga di kehidupan sehari-hari. Laporan tersebut terkait dengan kurangnya olahraga terhadap penyakit seperti diabetes dan hipertensi.

Dilansir Arab News, Abulaynain memulai dengan keluarganya, mengajak untuk bersepeda mengelilingi rumah mereka di Jeddah. Hingga akhirnya ia mendirikan klub sepeda.

 

"Awalnya, orang kaget melihat kami di jalan di lingkungan sekitar. Mereka kemudian menjadi lebih mendukung.” Katanya, Selasa (5/9).

Dalam bersepada yang ia butuhkan hanyalah sepeda, helm dan media sosial untuk memulai sebuah klub bersepeda. Ia membuat akun instagram dan memposting foto-foto bersepeda keluarganya. Akun itu dalam waktu singkat menjadi populer dan tidak pernah terbayangkan olehnya. Kemudian ia membuat sebuah kelompok WhatsApp untuk mereka yang tertarik bersepeda, menyetujui waktu dan tempat untuk bertemu.

“Kami mulai bertemu setiap Sabtu dan Rabu selama satu jam atau satu setengah jam. Beberapa dari mereka memiliki kekurangan keterampilan untuk mengendarai sepeda, namun tertarik dengan aktivitas tersebut. Kami saling membantu,” ujarnya.

Klub yang didirikannya telah beranggotakan 20 orang dan terbuka untuk siapa saja yang ingin bergabung. Namun sayang setelah beberapa bulan ia memulai klub, dirinya dan anggota lain harus berhenti. Sebab mereka harus mengajukan permohonan izin terlebih dahulu. Kini mereka sedang menunggu persetujuan dari gubernur.

“Kami berpikir bahwa kami seharusnya memiliki izin secara resmi agar klub kami tetap berdiri,” kata Abulaynain. Mgrol97

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement