Selasa 29 Aug 2017 16:31 WIB
Belajar Kitab

Mendekati Allah

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Agung Sasongko
Kitab Kuning
Foto: Antara
Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Siapa pun yang membaca al-Hikmah fi Makhluqatillah akan mendapatkan banyak hal: bukan hanya pengetahuan tentang berbagai makhluk hidup, melainkan juga ilmu Ilahi yang suci, yang menyingkap tabir rahasia penciptaan. Seseorang akan memahami, di balik berbagai dinamika alam ada kemahabesaran Allah. Asumsi manusia sebagai penguasa alam ini akan terbantahkan.

Berbagai hikmah yang diutarakan al-Ghazali merupakan renungan agar seseorang semakin dekat dengan Sang Pencipta. Dialah Mahapencipta segala apa yang ada di alam semesta ini. Tanpa kreasinya, semua keindahan yang dinikmati indra manusia tidak akan mewujud.

Al-hikmah fi Makhluqatillah merupakan kelanjutan dari proses penciptaan yang banyak digambarkan ulama dalam teori emanasi. Air, tanah, dan udara dikendalikan Allah yang menjadi asal-muasal segala ciptaan. Segala yang diciptakan akan kembali kepada-Nya. HAR Gibb saat mengomentari berbagai makhluk di alam semesta ini dalam pengantar buku Seyyed Hossein Nasr Introduction to The Islamic Cosmological Doctrine menjelaskan, merenungkan proses penciptaan dan kehidupan di alam ini membuat siapa pun memahami keteraturan hidup.

Siapa pun memahami bahwa keteraturan ini merupakan wujud keadilan Ilahi, keadilan yang tidak mungkin diintervensi siapa pun, keadilan yang tidak politis, dan tidak dapat direkayasa. Siapa pun tidak dapat membeli keadilan itu karena Allah tidak membutuhkan transaksi apa pun.

Keadilan itu menghasilkan keharmonisan, integralitas, dan pastinya kebenaran. Integralitas menandakan satu makhluk membutuhkan lainnya untuk keberlangsungan hidup. Hal itu menghadirkan pemahaman yang utuh, tidak dikotomis, dan tentu saja jauh dari sekularisme.

Di saat pemahaman sekuler mengagungkan manusia sebagai ukuran segalanya, mengarahkan setiap orang untuk berpikir tanpa batas, Islam dalam berbagai tradisi keilmuannya justru mengagungkan Sang Pencipta. Dengan segala kekuasaan-Nya, manusia mendapatkan anugerah yang membuatnya mampu mengaktualisasikan diri. Manusia semakin mendekati kesempurnaannya karena dia semakin merendahkan diri. Ibarat padi yang semakin matang, semakin menguning, pasti semakin merunduk, bukan berdiri tegak dengan penuh keangkuhan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement