REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melalui catatan perjalanan (rihlah) pelancong Ibnu Hawqal terdapat gambaran seperti apa jalur jalan jamaah haji dari Mesir ke tanah suci (Madinah dan Makkah) di masa lalu.
Perjalanan ini kebanyakan ditempuh melalui jalur jalan pesisir serta panjangnya terbagi dalam dua puluh tahapan. Di tengah jalan nantinya jamaah haji yang berangkat dari Mesir akan bertemu jamaah haji dengan asal Suriah di Aiyla.
Pada saat itu, lazimnya orang-orang Maroko akan menemani perjalanan haji orang-orang Mesir. Orang-orang dari Palestina akan melewati Median (Tabuk) di dua jalan: satu melalui Al-Bid 'dan Shaghab, sampai mereka mencapai Madinah.
Jalur kedua tetap sejajar dengan pantai sampai mencapai Al-Juhfa ysng nantinya ketika sampai di Damaskur akan bertemu dengan jamaah haji yang berasal dari Irak.
Seorang jamaah haji Hakim Wakea misalnya telah mencatat berbagai tahapan jalan dari jamaah haji asal Mesir untuk sampai ke tanah suci. Menurutnya, para peziarah atau jamaah haji ini akan melewati wilayah Al-Fusttat, Al-Jub, Al-Hafer, Al-Buwaib, Manzel um Saad, Ajroud, Al-Qalzam, Kursi, Al-Hafer, Nakhal, Aiyla (di dekat Damaskurs).
Setelah itu berbelok menuju jalan pesisir melalui jalan darat dari Aiyla ke Sharaf Al Baal, Madien, Falis, Al-Aghar, Al-Kilabiyah, Al-Bedea, Shaghab, As-Sarhtain, dan Al-Suqiya.
Sesampai di Al-Suqiya, perjalanan akan menyusuri jalan pesisir: dari Ayla, Ainona, Al-Mussala, Al-Nabak, Dhuba, Al-Murrah, Uwainid, Al-Wajh, Mankhus, Al-Hora (Umluj), Qussaiba, Al-Buhra, Yanbu, Al-Jar, dan sampai ke arah Madinah.
