Senin 05 Jun 2017 10:03 WIB

Interaksi dengan Alquran yang Allah SWT Inginkan

Sejumlah perempuan membaca kitab suci Al Quran saat mengikuti tadarus Al Quran Ramadhan 1438 H bersama ratusan umat muslim dari organisasi perempuan NTB di Pendopo Gubernur NTB di Mataram, Selasa (30/5).
Foto:
Seorang peserta membaca Alquran pada kegiatan

Memahami isi kandungan Alquran juga ditekankan dalam firman-Nya yang lain, seperti: “Kitab (Alquran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran (QS Shaad: 29) dan ayat: “Maka tidakkah mereka menghayati Alquran, ataukah hati mereka telah terkunci. (QS  Muhammad: 24).

Mengutip survei Prof Dr Muhammad Amin Aziz, terhadap jamaah di sejumlah masjid Jakarta dan Bogor terungkap, sebanyak 70 sampai 80 persen dari mereka tidak memahami ayat yang dibacanya, bahkan sekadar makna Surah al-Fatihah (The Power of Al-Fatihah: 2008). Sungguh fakta yang menyedihkan. 

Dari fakta ini saja, kita bisa menyimpulkan mengapa shalat yang intergral dengan bacaan Alquran tidak efektif mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS al-Ankabut: 45); karena apa yang dibaca (minimal ketika shalat) tidak dipahami makna dan pesan agung yang dikandungnya.

Secara implisit, Allah SWT menyinggung jenis shalat yang tidak berefek positif seperti ini seperti shalatnya orang yang mabuk: 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat ketika kalian dalam keadaan mabuk, sampai kalian sadar apa yang kalian ucapkan (QS an-Nisaa`: 43) 

Jika krisis moral bangsa Indonesia di setiap lapisan masyarakatnya disepakati sebagai sebuah fenomena yang merata, maka dapat ditarik garis kausatif dengan krisis pemahaman mayoritas Muslim Indonesia terhadap Kitab Sucinya. Bukankah, sebagaimana yang dikisahkan Aisyah RA, bahwa hulu dari teladan akhlak Rasulullah adalah Alquran(HR Muslim).

Patut diingat, Nabi Muhammad SAW saja, dalam kapasitas beliau sebagai rasul (penerima dan penyampai risalah Alquran), bahkan masih mau berupaya memahami dan meng-upgrade pemahamannya tentang Alquran. Hal ini terekam di dalam memori Ibnu Abbas RA ketika ia bercerita, bahwa Rasulullah adalah manusia paling dermawan. 

Beliau dalam keadaan terdermawannya saat Ramadhan, ketika Jibril menemuinya. Beliau bertemu dengan Jibril setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Alquran. Dan Rasulullah lebih dermawan dari angin yang berhembus. (HR al-Bukhari). Itulah salah satu aktivitas rutin Nabi Muhammad di Ramadhan yaitu mempelajari kandungan Alquran. Lalu, bagaimana dengan kita?  

*Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement