REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Judul buku Tanbih al-Ghafilin, seakan mengajak umat Islam untuk tidak terperangkap dalam jaring-jaring kemungkaran. Imam Muhyiddin mengatakan, banyak orang yang merendahkan saudaranya yang berpihak pada kebenaran.
Akibatnya, banyak orang yang malu-malu melakukan kebajikan di depan umum karena takut dihina. ''Oleh karena itu, saya merasa perlu menjelaskan hal-hal positif yang baik untuk dikerjakan. Dan mengingatkan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan tercela yang mengakibatkan pada penyesalan di hari kiamat,'' tegasnya.
Konsepsi dasar amar ma'ruf nahi munkar yang diusung Imam Muhyiddin mengacu pada ayat Alquran surat Ali Imran yang artinya, ''Hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.'' (Ali Imran: 104).
Sayyid Qutb dalam Fi Zhilalil Quran menafsirkan ayat tersebut sebagai sebuah seruan Allah kepada umat Islam untuk tidak terpecah-pecah dan saling berselisih. Oleh karena itu, menurut Sayyid Qutb, harus ada segolongan orang yang secara konsisten menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Segolongan umat itu, lanjutnya, berdiri tegak di atas fondasi iman dan persaudaraan. Terdapat kewajiban yang berat di atas pundak golongan kaum Muslimin, sesuai dengan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di muka bumi. Mereka itulah yang melaksanakan manhaj Allah.
Pada surah Ali Imran ayat 105, dijelaskan oleh Allah, ''Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.''
Menurut Sayyid Qutb, umat Islam adalah umat yang diorbitkan oleh Allah untuk berperan mengentaskan umat manusia dari kegelapan hidup. Oleh karena itu, Allah memberikan karunia kepada umat Islam berupa akidah, ilmu pengetahuan, akhlak, dan nilai-nilai luhur.
Disarikan dari Pusat Data Republika




