Selasa 11 Apr 2017 04:26 WIB
Belajar Kitab

Abwab al-Farah: Teruslah Memanjatkan Doa

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi Doa Berpuasa
Foto: Foto : MgRol_94
Ilustrasi Doa Berpuasa

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Berdoalah, tulis Syekh Muhammad. Allah memberikan kabar gembira permintaan seseorang pasti terkabul dan tidak akan pernah ditolak selama kita berada dalam koridor ketaatan-Nya.

Meski waktu tertunda, atau bentuk pengabulannya berupa pemberian yang lain, entah harta, kesehatan, dan anugerah keberkahan. Sebab itu, langkah penghambaan seseorang itu sangat dihargai oleh-Nya. Hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi menyebutkan, Allah sangatlah mulia, Dia tidak akan menolak saat seseorang mengangkat kedua tangannya mengajukan permintaan.

Berdoalah, kata Syekh Muhammad yang merupakan guru dari banyak ulama Indonesia itu. Kekuatan doa bisa menolak bencana dan ujian. Barang siapa yang ingin dijauhkan dari musibah, jangan pernah lewatkan berdoa memohon kebaikan kepada-Nya. Tak ada yang bisa mengubah takdir kecuali kekuatan doa, sabda Rasul dalam hadis riwayat Tirmidzi.

Teruslah memanjatkan doa baik ketika diterpa kesulitan atau di tengah kebahagiaan. Doa yang dipanjatkan pada masa-masa kesenangan justru mendapat perhatian lebih dari Allah. Ini seperti ditegaskan hadis riwayat Tirmidzi dan Hakim.

Syekh Muhammad menganalisis doa yang dibaca untuk menghadapi cobaan ada tiga kemungkinan. Pertama, doa itu lebih kuat dan mujarab sehingga mampu menolak bala.

Kedua, bisa jadi doanya tidak terlalu kuat, akibatnya cobaan itu mungkin tetap eksis atau mengkristal, tapi posisi doa meringankan meski hanya sekian persen, misalnya. Kemungkinan kita, doa dan bala itu saling beradu kuat, yang lantas berdampak pada tertundanya efek doa tersebut. Pemicunya beragam, salah satunya tingkat kesalehan pendoa.

Pada bagian akhir pendahuluan, sebelum mengulas rangkaian doa dan wirid, Syekh Muhammad yang bergaris keturunan ke Rasulullah SAW ini mengingatkan sepuluh adab berdoa.

Di antaranya memperhatikan waktu-waktu yang mulia, seperti hari Arafah, Ramadhan, dan waktu sahur (sepertiga malam terakhir). Perhatikan pula kondisi yang efektif berdoa, misalnya saat berjihad, ketika turun hujan, jelang dan usai shalat lima waktu, jeda masa azan dan iqamat, atau ketika sujud.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement