Senin 13 Mar 2017 12:15 WIB
Belajar Kitab

Akhwal an-Naas Merugi atau Merugikah Kita?

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Ilustrasi Kitab Kuning
Foto: Republika/Prayogi
Ilustrasi Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Izzuddin 'Abd al-Aziz Ibn Abd as-Salam bin Abi al-Qasim bin al-Hasan as-Sulami dalam  kitabnya Akhwal an-Nass wa Dzikr al-Khasirin wa ar-Rabihin (Golongan yang Merugi dan Beruntung) menggambarkan ihwal surga dengan singkat. Surga penuh dengan kebahagiaan dan faktor-faktornya, kenikmatan, dan bersih dari rasa sakit dan kesengsaraan. Kenikmatan dan kebahagian di surga kadarnya sangat jauh berbeda dari apa yang pernah dirasa di dunia.

Nikmat yang tiada bandingannya ialah ridha Allah. Bagi Muslim, kebahagiaan yang tiada tara kala di surga ialah melihat Allah, mendengar secara langsung kalam-Nya, dan berada dekat di sisi-Nya.

Kenikmatan yang tak tersentuh mata, tak pernah terdengar telinga, dan sama sekali tak terlintas di benak siapa pun. Nikmat yang kekal dan abadi, itulah surga. 

Neraka? Sangat bertolak belakang dengan surga.

Segala bentuk rasa sakit dan keburukan ada di sana. Rasa sakit yang tak pernah bisa dibayangkan. Paling sengsara ialah rasa dikucilkan dan dijauhkan akibat murka dari Allah. Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. (QS al-Mu'minuun [23]: 108). Neraka nihil kenikmatan dan kebahagiaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement