Kamis 23 Feb 2017 15:06 WIB

Seattle Terbuka untuk Semua Muslim

Rep: reja Irfa Widodo/ Red: Agung Sasongko
Warga Seattle, Kamis (10/11), menggelar protes menolak kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS.
Foto: AP
Warga Seattle, Kamis (10/11), menggelar protes menolak kemenangan Donald Trump sebagai Presiden AS.

REPUBLIKA.CO.ID, SEATTLE -- Wali Kota Seattle, Ed Murray, menegaskan, setiap komunitas Muslim diterima dengan tangan terbuka di seluruh wilayah Seattle. Pesan ini disampaikan oleh Murray dalam pidato tahunan, yang dilakukan setiap awal tahun.

Tidak seperti pidato tahunan sebelumnya, yang digelar di City Hall Seattle, Murray memilih berpidato di kompleks Masjid Idriss, Rabu (22/2) waktu setempat. Masjid Idriss merupakan salah satu masjid tertua yang terletak di sisi barat Sungai Mississipi, tepatnya di bagian Seattle Utara.

Dalam pidatonya, Murray sempat melontarkan kritik terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Terutama terkait larangan masuknya imigran atau warga asal tujuh negara mayoritas Muslim. Kebijakan ini, kata Murray, justru akan meningkatkan Islamofobia di AS. Kebijakan ini juga tidak berbeda dengan kebijakan diskriminasi yang pernah diterapkan di AS, termasuk UU Pemisahan warga Cina pada 1882.

Kehadiran Murray di Masjid Idriss merupakan bentuk dukungan dan solidaritas terhadap komunitas Muslim di AS. ''Kami disini, karena kami adalah kota yang terbuka. Kami berdiri bersama dan memiliki solidaritas dengan tetangga kami yang Muslim,'' ujar Murray seperti dikutip Middle East Eye.

Lebih lanjut, Murray memperkirakan, selama lima tahun mendatang atau selama masa pemerintahan Trump, nilai-nilai keterbukaan yang selama ini dianut masyarakat Amerika Serikat akan mendapatkan ujian berat. Namun, Murray memastikan, warga Seattle akan terus membangun komunitas yang ada di masyarakat.

''Berbeda dengan politik polarisasi yang dilakukan presiden (Trump), warga Seattle justru membangun komunitas. Kami membuka tangan kami dan membuka hati kami,'' tutur Murray.

Pidato tahunan Murray ini memang sengaja dilakukan di masjid. Hal ini diharapkan untuk mengurangi atau sebagai upaya memerangi aksi-aksi kejahatan kebencian serta Islamophobia di Seattle. Sebelumnya, pada awal tahun ini, setidaknya ada tiga kasus serangan berbasis kebencian yang terjadi di Seattle. Bahkan, dua masjid di Seattle dilaporkan menjadi sasaran vandalisme oleh sekelompok orang.

Sebelumnya, kantor Asosiasi Muslim Puget Sound (MAPS), yang berada di Redmond, wilayah pinggiran Seattle bagian timur, telah diserang dua kali. Serangan pertama terjadi pada November 2016, sedangkan serangan kedua terjadi pada Desember 2016. Polisi masih terus mengejar tersangka pengrusakan kantor MAPS tersebut. Polisi memperkirakan serangan ini dilakukan atas dasar kejahatan kebencian.

Pada Januari 2017, Islamic Center di Eastside, pinggiran kota Seattle, atau yang lebih dikenal Bellevue Masjid juga menjadi sasaran kejahatan kebencian. Pada saat itu, Bellevue Masjid terbakar dan menghanguskan sebagian besar bangunan masjid. Polisi akhirnya menangkap Wayne Wilson (37 tahun) sebagai tersangka utama dalam kasus pembakaran masjid tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement