Rabu 15 Feb 2017 18:45 WIB
Belajar Kitab

Awal Mula Munculnya Tanda Baca Alquran

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Alquran
Foto: Republika/Yasin Habibi
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bisa dibilang, jarang sekali kitab yang membahas tentang fungsi titik untuk membaca huruf Alquran. Kalaupun ada, seperti kitab Ath Tharaz fi Syarh Dhabthi Al Kharraz karangan Abu Abdullah. Namun, jika dibandingkan dengan Al Muhkam, nilainya tak sebanding.

Kitab yang ditulis Abu Amar Utsman bin Sa’id Ad Dani itu jauh lebih unggul, lantaran ketajaman dan akurasi data yang disampaikannya. Terlebih paparan yang disampaikan Ad Dani merujuk pada riwayat-riwayat yang absah dan dapat dipertanggungjawabkan. Kitab Al Muhkan juga diposisikan istimewa lantaran muatan dan kualitas uraian yang disuguhkan sangat komprehensif.

Ad Dani memulai penjelasannya tentang asal mula munculnya tanda baca dalam Alquran. Ad Dani merujuk pada sebuah riwayat dari Yahya bin ibnu Abu Katsir. Secara umum, riwayat itu menyebutkan bahwasanya pada awalnya Alquran tidak memiliki tanda baca, baik berupa titik maupun harakat (syakl).

Pertama kali yang dilakukan adalah membedakan antara huruf Ya’ dan Ba’ dengan meletakkan titik. Hal ini dipandang tidak menjadi masalah karena justru bisa memperjelas perbedaan antara kedua huruf tersebut. Langkah selanjutnya yang diupayakan adalah memberikan titik pada tiap pengujung ayat.

Lalu, dilakukan pula tanda awal dan akhir ayat. Lantas, siapakah yang mengawali membubuhkan tanda baca huruf-huruf Alquran itu? Menurut Ad Dani, menukil riwayat dari Qatadah, para sahabat dan tabi’in pertamalah yang mengawali menuliskan titik. Qatadah berkata, merekalah. Hal itu membuktikan bahwa sahabat dan tabaiin awal yang memulai menuliskan titik pada huruf-huruf Alquran.

Dan, mayoritas bersepakat bahwa tanda titiklah yang ditulis pertama kali bukan syakl. Dalam analisis Ad Dani, penulisan titik lebih diprioritaskan daripada syakl menunjukkan fleksibilitas bacaan dan bahasa yang memang secara legal telah diperkenankan untuk digunakan oleh Allah.

Akan tetapi, seiring perkembangan dan dinamika dialek bahasa yang terus berkembang dengan berbagai dampak negatifnya, kebutuhan meletakkan tanda baca baik berupa titik dan syakl tak terelakkan.

Bahkan, menurut Ad Dani, faktor utama yang mendorong para salaf menulis tanda baca itu adalah tingkat keprofanan dialek masyarakat Arab di masa itu akibat persinggungan dengan varian dialek yang cenderung merusak. Apabila gejala ini—termasuk fenomena minimnya para ahli bahasa—tak segera disikapi, dikhawatirkan akan mereduksi makna-makna yang terkandung dalam Alquran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement