Kamis 26 Jan 2017 09:24 WIB

Islamofobia, Bahasa NKRI: Indonesia Bukan Arab?

Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.
Foto: Gahetna.nl
Gambar Sunan Pakubuwono X mengunjungi Kampung Luar Batang tahun 1920-an.

Ketika bangun pagi dan melihat lalu lintas berita di media massa saya dibuat terkejut bercampur geli ketika ada seorang kawan melalui laman Facebook menyampaikan pesan yang berbau seruan.

Isinya begini. Lucu dan menarik: “Wahai Muhammad Subarkah keluarkan semua kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Gue jamin lu nggak bisa ngomong. (Kalau) Lu mau ngomong pake Melayu Tionghoa, seperti dalam cerpen Kwee Tek Hoay? (Maka) Perlu dua generasi untuk menyesuaikan diri...”

Pesan itu membuat saya terkekeh-kekeh. Saya tiba-tiba teringat tulisan munsyi Remy Silado  bahwa "9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing". Dalam sebuah artikel di media massa beberapa tahun silam dia mencontohkan begini. Isinya ‘mengolok-olok’ pikiran bahwa ada yang ‘asli’ dalam khazanah ‘Indonesia’ yang jelas-jelas menyatakan diri sebagai bangsa campuran atau oplosan dengan memakai nama depan ‘indo’ itu.

Remy kemudian mencontohkan sebuah kalimat yang dicomotnya dari sebuah rubrik  di koran tentang tawaran atau iklan pertemanan alias ‘mencari jodoh’. Rubrik ini dulu sangat digemari oleh para ‘lajangwan’ dan ‘lajangwati’ atau mereka yang pura-pura mengaku masih menjalani hidup tanpa pasangan:

"Gadis 33, Flores, Katolik, sarjana, karyawati, humoris, sabar, setia, jujur, antimerokok, antifoya-foya, aktif di gereja. Mengidamkan jejaka maks 46, min 38, penghasilan lumayan, kebapakan, romatis, taat, punya charisma”.

Untuk membuktikan tesisnya Remy kemudian menelisik satu per satu mengenai asal kata itu. Hasilnya ajaib! Ternyata asal usul kata yang oleh orang Indonesia diucapkan sehari-hari dan dicontohkan dalam tulisan di rubrik jodoh itu ternyata mirip makanan gado-gado. Tak jelas mana yang asing dan mana yang asli. Ini makin rumit sebab kenyataan menyatakan bahwa apa yang disebut sebagai ‘bangsa Indonesia’ –seperti yang sering dikatakan pengamat politik DR Salim Said— umurnya baru 72 tahun: "Bangsa Indonesia bangsa yang baru, umurnya belum satu abad!’’

Dan inilah hasil telisik Remy atas asal usul kata yang ada di dalam rubrik jodoh itu:

“Gadis (Minangkabau) 33, Flores (Portugis: floresce), Katolik (Belanda: katholiek), sarjana (Sanskerta: sajjana), karyawati (Sanskerta: karya+wati), humoris (Belanda: humorist), sabar (Arab: ṣabr/sabran), setia (Sanskerta: Satya), jujur (Jawa), antimerokok (Belanda: anti+roken), antifoya-foya (Belanda: anti & Menado: foya), aktif di gereja (Belanda: actief; Portugis: igreja). Mengidamkan (Tamil: iṭṭam) jejaka (Sunda: jajaka) maks (Belanda: maximal) 46, min (Belanda: minimal) 38, penghasilan (Arab: ḥāṣil) lumayan (Jawa), kebapakan (Cina: bapak {?}), romantic (Belanda: romantisch), taat (Arab: ṭāʿa/thawa’iyat), punya (Sanskerta: Empu) karisma (Belanda: charisma)”.

Nah, kalau begitu manakah yang asli dari Indonesia (bahasa)?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement