REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Iran mengancam akan memberikan balasan yang menghancurkan dan segera terhadap serangan Amerika Serikat terhadapnya.
Para pejabat Iran menegaskan kesiapan untuk berperang, di tengah meningkatnya tekanan terhadapnya. Yang terbaru adalah keputusan Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi baru dan mengklasifikasikan Garda Revolusi sebagai organisasi teroris, yang digambarkan Teheran sebagai kesalahan strategis.
Juru bicara militer Iran, dikutip dari Aljazeera, Jumat (30/1/2026) Brigjen Mohammad Akrami Neya, mengancam akan memberikan balasan yang tegas dan segera.
Dia memperingatkan bahwa serangan AS tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan Presiden AS Donald Trump, yaitu melakukan operasi cepat dan kemudian mengumumkan berakhirnya operasi tersebut beberapa jam kemudian.
Dalam konteks gerakan militer, kantor berita Reuters mengutip pernyataan seorang pejabat AS yang mengatakan kapal perusak "Debert de Black" telah memasuki wilayah Timur Tengah dalam dua hari terakhir.
Secara politis, Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, mengatakan Teheran akan bernegosiasi jika yakin bahwa Washington menginginkan negosiasi yang sesungguhnya dan bukan sekadar kedok untuk konspirasi yang lebih besar, menurut penjelasannya.
Sementara itu, media Israel melaporkan pada Kamis (29/1/2026) bahwa Kepala Intelijen Militer Israel (Aman) Mayor Jenderal Shlomi Binder mengunjungi Washington selama dua hari terakhir untuk membahas kemungkinan serangan Amerika terhadap Iran.
Saluran 12 mengutip pejabat Amerika bahwa Bender melakukan kunjungan rahasia ke ibu kota Amerika pada Selasa dan Rabu untuk membahas masalah sensitive terkait kemungkinan serangan Amerika terhadap Iran.
Lihat postingan ini di Instagram




