Jumat 20 Jan 2017 18:46 WIB
Belajar Kitab

As Syakwa Wa Al Itab, Mengelola Potensi Individu

Rep: Nashih Nasrullah/ Red: Agung Sasongko
Kitab Kuning
Foto: Antara
Kitab Kuning

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Interaksi antarsesama manusia memerlukan keahlian dan seni tersendiri. Bagaimana bersikap dan berbicara dengan orang lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kesemua itu sepatutnya dilakukan dengan etika dan cara yang elegan, tanpa menegasikan jati diri dan keistimewaan dalam diri seseorang.

Begitu pula, kaitannya dengan pengelolaan potensi internal yang ada pada diri seseorang, tentunya membutuhkan keterampilan lewat proses panjang dan tempaan yang berkesinambungan, terutama mengoptimalkan energi positif dan mengubah daya negatif menjadi sebuah kekuatan dahsyat.

Abu Manshur Abd Al Malik bin Muhammad bin Ismail menulis sebuah karya yang berkenaan dengan pengelolaan potensi yang ada pada diri seseorang. Melalui kitab yang berjudul As Syakwa Wa Al Itab Wama Waqa li Al Khillan wa Al Ashhab, tokoh kelahiran Nisabur, Iran, tersebut mencoba mengupas topik-topik itu. Guna mendukung ulasannya itu, sosok yang lebih dikenal dengan panggilan Ats Tsa’alabi tersebut mengonsep tulisannya secara sederhana.

 

Kesederhanaan itu tampak di 10 bab utama yang menjadi bahasan kitab ini. Ats Tsa’alabi cukup menukil hadis, perkataanperkataan tokoh, dan syair-syair yang berkorelasi langsung dengan tema yang ia bahas. Bahkan, pada sejumlah kesempatan, ia mengutip teks-teks keagamaan yang terdapat di kitab suci Nasrani, yaitu Injil. Hampir tak ditemukan sama sekali komentar-komentar dan analisis yang ditampilkan oleh penulis.

Selain itu, pemilihan tema di setiap babnya pun dipilih secara acak. Jika beberapa buku raqaiq dan zuhd yang memuat etika-etika ibadah dan sosial kebanyakan diawali dari pembahasan hati ataupun niat, tetapi di kitab ini Ats Tsa’alabi lebih memilih mengawali uraiannya pada bab pertama mengenai tradisi teguran dan aduan oleh seseorang. Di bab ini, tokoh kelahiran 350 H/961 M ini menyodorkan argumentasi bahwa teguran bisa memicu kebencian antardua sahabat.

Pada bab kedua, misalnya, Ats Tsa’alabi membahas bagaimana menghadapai pembantu, budak, dan pelayan yang sehari-hari mengabdi di rumah. Di bab yang lain, figur yang dikenal piawai di berbagai bidang keilmuan itu membahas fenomena rasa rindu yang hinggap pada diri seseorang. Dan, di bab terakhir ia menukil argumentasi tentang urgensi bersikap adil.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement