Senin 16 Jan 2017 20:14 WIB

Muslim AS di Tangan Presiden Islamofobia

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Ilham
Muslim Amerika (ilustrasi)
Foto: Independent
Muslim Amerika (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Rakyat Amerika Serikat kini tengah menanti pelantikan presiden baru yang dijadwalkan akan dilakukan pada 20 Januari, mendatang. Alih-alih mendapatkan presiden wanita pertama, AS justu mendapatkan presiden Islamofobia pertama, Donald Trump.

Dilansir dari Al Jazeera, sejak kampanye presiden pada 2016 lalu, Trump seolah menghidupkan kembali Islamofobia. Bagi Trump, memfitnah umat Islam dalam kampanye merupakan bagian dari strategi kemenangan.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan NBC pada Desember 2015 menunjukkan, sebanyak 25 persen rakyat Amerika mendukung Trump untuk melarang Muslim di AS. Bahkan, jajak pendapat yang dilakukan pada Maret 2016 menunjukkan dukungan yang lebih besar, dengan angka 51 persen.

Semakin membesar angka-angka dukungan, Trump semakin kuat mengkampanyekan Islamofobia. Dia memberi makan rakyat mayoritas kulit putih dengan Islamofobia yang dibumbui kebencian. Tampaknya, upayanya itu menunjukkan hasil dalam pemilu presiden pada 8 November, lalu.

Trump tidak mengadopsi pandangan Islamofobia yang ditunjukkan dengan berhati-hati seperti yang dilakukan mantan Presiden George W Bush dan wakilnya, Mitt Romney. Ia juga tidak memandang Muslim secara ekslusif dari lensa kebijakan keamanan nasional seperti yang dilakukan Barack Obama dan Hillary Clinton.

Dia tidak menekankan rasa cinta damai dan moderat ketika berbicara tentang Muslim. Bahkan, Trump mengesampingkan basa basi politik dengan terang-terangan mengumbar kebencian.

Terpilihnya Trump sebagai Presiden AS ke-45, diikuti dengan rencana kebijakan pendataan Muslim AS yang diumbarnya. Rencana tersebut dikemukakan oleh tim transisi Trump, Kris Kobach, yang kemudian dibantah Presiden Obama.

Menurut Southern Poverty Law Center (SPLC), tindakan kebencian semakin meningkat pascapemilihan presiden. Organisasi hak sipil tersebut mencatat ratusan kasus pelecehan terhadap Muslim terjadi di berbagai wilayah AS.

Kasus kebencian, bahkan terjadi di tempat-tempat ramah Muslim, seperti New York dan Michigan. Kedua wilayah itu adalah rumah bagi komunitas Muslim terbesar di AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement