Sabtu 17 Dec 2016 15:49 WIB

Pelatihan Akuntansi Masjid Permudah Pengurus Lakukan Pembukuan

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ani Nursalikah
Peserta mengikuti acara pelatihan akuntansi Masjid di Masjid Agung Nurul Iman, Padang, Sabtu (17/12).
Foto: Republika
Peserta mengikuti acara pelatihan akuntansi Masjid di Masjid Agung Nurul Iman, Padang, Sabtu (17/12).

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Harian Republika bekerja sama dengan Institut Akuntansi Masjid (IAM) Masjid Baitul Mal (MBM) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengadakan Pelatihan Akuntansi Masjid kepada puluhan pengurus masjid se-Padang, Sumatra Barat.

Dalam pelatihan ini, para pengurus masjid diperkenalkan dan diajarkan aplikasi akuntansi perangkat lunak ciptaan IAM MBM STAN yang diberi nama Application World Wide.

Yeni Savitri, salah seorang pengurus dari masjid Muhammadiyah Teluk Bayur, mengungkapkan pelatihan akuntansi ini sangat dibutuhkan pengurus masjid. Pencatatan keuangan secara digital mempermudah pengurus saat melakukan pembukuan.

Menurut Yeni, selama ini pencatatan keuangan di masjidnya dilakukan secara manual. "Cara ini (pencatatan digital) lebih praktis dan sederhana," kata Yeni di Masjid Agung Nurul Iman Padang, Sabtu (17/12).

Baca: LPS Dorong Masjid Simpan Dana di Bank Syariah

Meski terbilang baru baginya, Yeni menilai cara ini tidak terlalu sulit untuk dipelajari. Menurut pembina Masjid Hadiqotul Iman, Tunggul Hitam, Casmiwati, pelatihan akuntansi masjid perlu untuk membantu pengurus menyampaikan laporan keuangan secara terbuka dan bertanggung jawab kepada jamaah masjid. Melalui aplikasi ini, tidak hanya pengurus, semua laporan keuangan juga bisa diakses pihak luar.

"Kita bisa saling terbuka dengan jamaah," kata Casmiwati.

Hal serupa juga diakui, Wakil Ketua Pengurus Masjid Al-Muttaqin Kayu Tanam, Apriyanto. Ia mengatakan keleluasaan mengakses laporan keuangan masjid menghindarkan prasangka negatif yang tak jarang timbul dari jamaah. Program ini sangat membantu pengurus transparan dalam menyampaikan laporan.

Selain itu, data keuangan menjadi lebih tertata dan terarsip dengan rapi. Menurut Apriyanto, pembukuan yang dilakukan secara manual rentan hilang atau rusak.

Namun, Apriyanto mengungkapkan, kurangnya tenaga masjid yang masih muda menjadi kendala mengaplikasikan program ini. "Karena ini baru, dan tenaga masjid terbatas jadi agak sulit, tapi kalau sudah dilatih tinggal kebiasaan, nanti juga bisa," kata Apriyanto.

Apriyanto berharap, kedepan ada pendampingan lagi bagi pengurus yang mengalami kesulitan mempraktikkan aplikasi akuntansi ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement