Kamis 15 Dec 2016 11:41 WIB

Konsolidasi Spirit 212, Shubuh Berjamaah di MASK Dibanjiri 3.500 Jamaah

Para jamaah Gerakan Shubuh Berjamaah di MASK berfoto bersama dengan calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
Foto: Dok MASK
Para jamaah Gerakan Shubuh Berjamaah di MASK berfoto bersama dengan calon wakil gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Setelah Aksi Damai 212 (acara zikir, doa dan shalat Jumat berjamaah)  yang diikuti sekitar 7,4 juta orang di kawasan Monas dan sekitarnya pada 2 Desember 2016, langkah berikutnya yang sangat penting adalah menjaga spirit 212 tersebut. Salah satu hal yang paling utama adalah  mengajak umat Islam untuk menegakkan shalat Shubuh berjamaah di masjid dan mushalla.

Jutaan umat Islam di seluruh Indonesia mengikuti Gerakan Shalat Shubuh berjamaah yang diinisiasi Gerakan Nasional  Pengawal Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) pada Senin (12/12). Gerakan tersebut diselenggarakan di lebih dari 200 titik di seantero Tanah Air, sebagai upaya konsolidasi spirit 212.

Di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Menteng Jakarta, Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah diikuti tidak kurang dari 3.500 jamaah. Para jamaah meluber hingga ke halaman masjid.  “Mereka berasal dari Jadebotabek. Semarak jamaah Shubuh Berjamaah ini seperti i'tikaf Ramadhan malam 21 atau 23 di MASK,” kata pengurus MASK Ustadz Dr Sutrisno Muslimin MSi kepada Republika.co.id, Senin (12/12/2016).

Sutrisno menambahkan,  para jamaah itu mulai berdatangan sejak pukul 03.00 dini hari. Mereka beri’tikaf sambil menunggu datangnya waktu Shubuh.

Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah di MASK itu juga dihadiri oleh salah satu  pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan dan Sandiaga Uno. Menurut Sutrisno, kehadiran Anis dan Sandiaga karena keduanya merupakan bagian dari umat Islam.

“Kita berharap kalau Anis dan Sandiaga dipercaya Allah memimpin Jakarta, keduanya berupaya sungguh-sungguh menjadikan Jakarta kota yang  lebih baik. Hal itu sebagaimana jargon pasangan calon tersebut, yakni ‘Maju Kotanya, Bahagia Warganya, Iman dan Takwa Landasannya’,” tutur Sutrisno.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua GNPF-MUI Ustadz Bachtiar Nasir mengemukakan, Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah dapat menjadi bagian revolusi umat Islam sekaligus menjadi titik tonggak perubahan dalam menggelorakan perdamaian di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penanggung Jawab Media Centre GNPF-MUI Ustadz Erick Yusuf menyebutkan, setelah ini, GNPF-MUI akan mengadakan Safari Nasional dan Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah ke wilayah lainnya di Tanah Air.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement