Senin 05 Dec 2016 09:41 WIB

Antara Ketua RT dan Presiden

Presiden Jokowi dan Wapres JK berbincang terkait aksi unjuk rasa 4 November
Foto: Halimatus Sa'diyah
Presiden Jokowi dan Wapres JK berbincang terkait aksi unjuk rasa 4 November

Antara Ketua RT dan Presiden

Oleh: Erie Sudewo, Pendiri Dompet Duafa

===============

“Begitu tanya di mana rumah Ketua RT, urusan jadi mudah, Mas”, kata teman-teman yang silaturahim ke rumah. Batin saya sontak jawab: “lha iya lah. Ada ga sih Ketua RT yang tak dikenal warga?” Tapi ada lho, pejabat yang tak dikenal. Wes ewes ewes... Tiba-tiba jadi pejabat. Dia sendiri bingung, malah bertanya-tanya.

Setahun sudah saya jabat RT. Ini yang buat geleng teman-teman. “Sampeyan sibuk. Koq mau jadi Ketua RT. Gimana bagi waktu. Apa sih yang dicari, Mas?”

Pertanyaan yang tak pernah berubah, meski diucap orang yang berbeda. Maknanya, ada kesamaan pola yang keliru di ke-RT-an negeri ini. Kita simak sebagian kekeliruan yang telah berjalan berpuluh-puluh tahun.

Pertama, entah hingga kapan, RT cuma jalankan fungsi administratif. Untuk urusan begini, saya sudah tanda tangani jauh-jauh hari. Jadi saat saya tak di tempat, hajat warga tetap terjaga.

Kedua, agar administratif lancar, memang ada syarat. Bukan seperti yang kini banyak terjadi. Terselip seperak dua perak. Pengurus RT musti sudah selesai dengan dirinya. Terbayang jika pengelola negeri sudah selesai dengan diri sendiri kan.

Ketiga, fungsi administratif cuma rutin. Ini “kerja tanpa visi”. Kita asyik terbuai hidup di negeri yang lempar kayu jadi tanaman. Tak terbayang kelola RT juga harus ber-visi. Tak percaya, yuuuk bandingkan.

Peran Ketua RT dan Presiden sama. RT urus warga, Presiden urus bangsa. RT punya pengurus, Presiden punya kabinet. Saya jadi Ketua RT musti independen. Presiden kita, independen kah? Dengan doa kita berharap: "Semoga. Aamiin YRA".

Saya sadar ajukan syarat ketika diminta jadi Ketua RT. Maka Sekretaris RT saya minta Dhana Darsono. Dia putera Jenderal HR Dharsono, Ketua Petisi 50. Kereeen kan. DNA-nya sudah “orang bener tuh”.

Saya mau Bendahara RT adalah Anto Darmadji. Dia akuntan independen. Pensiun dini meski kesayangan salah seorang menteri. Dan saya mau jadi ketua RT, jika Ketua PKK adalah Emmy Hafild. Siapa ini? Dia termasuk yang melejitkan Walhi.

Dengan komposisi begitu, barangkali, ini “Kabinet RT paling mengerikan” di Indonesia. Maka tak sampai dua bulan, Lurah Bintaro sepakati usulan. “Pelatihan Karakter RT Bintaro”. Belum dua bulan saya jabat Ketua RT, mendadak ajari orang yang sudah jadi Ketua RT 30 tahun. Entah ini “ajari burung terbang” atau malah “merusak jam terbang”.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement