Kamis 25 Aug 2016 16:00 WIB

Masjid Agung Kebanggaan Warga Sumedang

Rep: mg02/ Red: Agung Sasongko
Masjid Agung Sumedang
Foto: bimas.kemenag.go.id
Masjid Agung Sumedang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Siapa yang tidak tahu Kabupaten Sumedang? Ya kabupaten yang berada di Jawa Barat ini terkenal de ngan makanan khasnya, ya itu tahu. Tidak hanya itu, Sumedang yang menjadi perlintasan antar provinsi ini sarat akan sejarah kerajaan.

Begitu juga dengan sejarah penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Masjid merupakan tempat ibadah dan menjadi sebuah simbol bagi umat Islam. Tidak hanya itu, sebuah masjid pun dapat menjadi saksi sejarah yang terjadi pada zamannya. Hal tersebut dapat terlihat dari arsitektur yang digunakan dan cerita yang berkembang di masyarakat.

Salah satu masjid yang terkenal di Sumedang adalah Masjid Agung yang berada tepat di pusat pemerintahan. Masjid Agung Sumedang memiliki arsitektur yang unik yaitu perpaduan antara Tionghoa dan Islam. Masjid tersebut menjadi masjid kebanggaan bagi masyarakat Sumedang.

 

Tidak jauh dari pusat kota, jaraknya sekitar satu kilometer di bagian Sumedang Utara. Tepatnya di Jalan Sebelas April, Kelurahan Talun, Kecamatan Sumedang Utara. Masjid ter se but bernama Masjid Besar Tegalkalong.

Bangunan permanen itu bercat putih dengan pagar berwarna hijau. Atap masjid tersebut menyerupai atap pada Masjid Agung Sumedang. Yaitu memiliki atap tumpang berjumlah tiga tingkat dan di bagian puncaknya terda pat mustaka seperti bunga yang mekar.

Bangunannya tidak begitu tinggi, jarak dari pintu ke langit-langit hanya sekitar 30 centimeter. Luas bangunannya sekitar 378 meter persegi. Masjid ini dapat menampung sekitar 600 jamaah.

Konon katanya Masjid Besar Tegalkalong menjadi masjid pusaka di Sumedang. Namun secara selintas masjid tersebut tampak biasa saja. Tidak ada yang menarik bahkan kondisinya sangat berbeda dengan Masjid Agung Sumedang yang terlihat megah dan mewah.

Selain itu banyak yang mengira bangunan tersebut hanya bangunan pemerintahan biasa. Karena tidak adanya kubah atau menara se bagai penanda masjid. Terlebih lokasinya berada di depan kan tor Kecamatan Sume dang Utara.

Menurut Dewan Keluarga Masjid (DKM) Tegalkalong Bachren Syamsul Bachri, masjid tersebut telah mengalami beberapa kali renovasi. Namun salah satu ciri khas yaitu atap bertumpang dan mustaka tetap di biarkan seperti semula.

Menurut Bachren, salah satu alasan renovasi karena kapasitas masjid sudah tidak memenuhi jamaah yang melaksanakan ibadah. Pada mulanya masjid tersebut bernama Masjid Agung Tegalkalong. Namun pada 1985 masjid tersebut berganti nama menjadi Masjid Besar Al-Falah Tegalkalong.

Berbagai kegiatan dilakukan di masjid itu seperti pengajian ibu-ibu yang dilakukan setiap Senin dan Sabtu pukul 16.00 WIB. Selain itu setiap malam Jumat selalu diadakan pengajian bapak-bapak. Tidak hanya itu, Masjid Tegalkalong selalu diramaikan dengan pengajian setiap Sabtu subuh. Setiap akhir bulan juga diselenggarakan pengajian yang dihadiri ma sya rakat Kecamatan Sumedang Utara.

Bahkan terkadang masjid tersebut di gunakan sebagai tempat manasik haji. Dikatakan Bachren, sebagai masjid kecamatan Masjid Besar Tegalkalong menjadi pusat transit berbagai tujuan. Bachren menuturkan untuk menya tukan berbagai perbedaan pihaknya selalu menjalankan silaturahmi. Sehingga masjid tersebut tidak pernah sepi dari kegiatan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement