Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Gingin Hijrah dari Mustahik Jadi Muzaki

Selasa 14 Jun 2016 05:18 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Damanhuri Zuhri

Pembayaran zakat.

Pembayaran zakat.

Foto: Republika/Agung S

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berhijrah dari status penerima zakat (mustahik) mejadi pemberi zakat (muzaki) bukanlah hal yang mudah. Namun, motivasi dan keinginan yang kuat terbukti mampu mengubah keadaan itu.

Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT bahwa Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Setidaknya demikianlah yang dialami Gingin, pria asal Pandeglang, Banten. 

Gingin yang juga penyandang disabilitas ini dulunya adalah seorang mustahik yang hanya memiliki satu lengan dan sering meminta bantuan ke Kantor Menuju Mandiri (MM) Al Azhar Peduli Umat (APU) di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta. Kini ia sukses menjadi jutawan dan motivator.

Sekitar tahun 2010, Gingin masih berjualan asongan di daerah Jakarta. Karena tak ada kerabat dekat, saat mengalami permasalahan ekonomi ia meminta bantuan ke Kantor MM APU. Tak hanya sekali dua kali, ia sering kembali lagi meminta bantuan dengan alasan yang berbeda-beda seolah-olah menjual kekurangan fisik yang dialaminya.

Suatu hari ia kembali mengajukan bantuan dengan membawa serta anak dan istrinya. Berharap mendapat bantuan uang banyak Tim MM APU justru hanya memberinya uang sebesar Rp 20 ribu karena dia sudah terlalu sering datang.

Akhirnya, Ahmad yang saat itu bertugas, memberikan motivasi kepada Gingin, siapapun bisa maju dan sukses asal ada kemauan kuat. "Silahkan Anda pulang ke kampung halaman dan cari potensi alam yang ada di daerah bapak, jika sudah ditemukan silahkan kembali lagi ke Al Azhar," ujar Ahmad.

Mendengar kata motivasi yang membakar semangatnya ia kemudian memutuskan untuk segera pulang ke Pandeglang memboyong serta istri dan anaknya. Selama di perjalanan dia terus berpikir apa yang harus dikerjakannya agar maju dan mandiri.

Akhirnya ia pun menemukan peluang usaha budidaya Madu Klanceng di desanya. Gingin kemudian menjalankan budidaya Madu Klanceng di kampung halamannya di Kampung Gardu Tanjak, Pandeglang, Banten. Madu Klanceng atau Madu Trigona tergolong mahal, sebab di Indonesia belum banyak yang membudidayakannya.

Dalam menjalankannya, tim APU terus memberikan pendampingan dan monitoring serta motivasi dan solusi dalam modal. Selang beberapa tahun bergulir, hasilnya memuaskan. Budidaya madu klanceng yang dijalaninya terus berkembang pesat dan Gingin tengah fokus memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan jumlah produksi.

Kini, Gingin juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk mengelola madu kelanceng. Ia mengembangkan HIPEC (Himpunan Penyandang Cacat) yang menjadi cita-citanya untuk memberdayakan para kaum disabilitas. Tak hanya itu, Gingin juga dipercaya Pemda Banten menjadi trainer dan motivator dalam berbagai pelatihan.

Berkat keuletan dan kesabarannya, Gingin kini mempunyai dua buah rumah dan beberapa kendaraan pribadi. Rumah lamanya diwakafkan menjadi Saung Pintar sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat dalam pertanian madu kelanceng dan pembelajaran berorganisasi bagi remaja di Pandeglang.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA