Ahad 15 May 2016 09:31 WIB

Mahakarya Masjid Agung Damaskus

Rep: c62/ Red: Agung Sasongko
Masjid Agung Damaskus
Masjid Agung Damaskus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masjid Agung Damaskus yang berdiri megah di jantung Kota Damaskus merupakan salah satu tempat ibadah umat Islam tertua di dunia. Masjid ini merupakan hasil cipta, karsa, dan karya al-Walid I, salah satu khalifah Dinasti Umayyah yang direalisasikan terhadap sebuah bangunan.     

Setelah lebih dari 1.300 tahun, masjid yang lebih dikenal dengan nama Masjid Umayyah ini masih terlihat kokoh dan menakjubkan. Al-Walid mengundang para seniman dan arsitektur di wilayah Mesir, Persia, India, Afrika Utara, dan Bizantium yang tersohor pada masanya untuk membangun masjid ini.

Penyelesaian masjid ini memakan waktu sembilan tahun dengan menghabiskan dana sebanyak 400 peti, setiap petinya berisi 14 ribu dinar. Konon, arsitektur masjid yang dibangun di atas lahan bekas gereja ini telah memberi pengaruh bagi seni arsitektur masjid di seluruh dunia.  

Dari masjid inilah, arsitektur Islam mulai mengenal lengkungan (horseshoe arch), menara segi empat, dan aksesori selera al- Walid yang futuristik estetik.  Jika dicermati, masjid yang dibangun pada abad kedelapan ini merupakan paduan budaya Romawi dan Islam. Unsur Romawi tampak dari menara dan gambar halus bermotif pohon pada fasad menuju ruang utama masjid. 

Sedangkan, sentuhan budaya Islam terlihat dari mihrab, kubah, dan ornamen-ornamen khas Islam, seperti kaligrafi yang tergores lugas nan indah di ineterior masjid. Marmer dan batu pualam mendominasi material masjid ini. Dua bahan ini termasuk barang mewah dan mahal pada masa itu. 

Marmer dipakai melapisi dinding atas dan lantai bawah ruangan masjid. Sementara, batu pualam digunakan untuk menutup kulit pada tiang masjid. Di antara unsur bangunan, hanya marmer yang sering memancarkan keindahannya. Marmer yang digunakan sebagai penutup lantai ini memendarkan kilauan indah ketika terkena pantulan sinar matahari.

Keelokannya ditunjang dengan hiasan-hiasan menawan. Pada bagian atas tiang dibentuk ornamen hias motif bunga dan bagian bahwa tiang masjid menggambarkan hiasan tangkai pepohonan. Menurut arsitektur Barat K A C Creswell dan Strzygowski (1930) dalam Early Muslim Architecture, kultur Persia juga sangat kental dalam arsitektur masjid ini.  

Kompleks masjid yang berdiri di atas lahan seluas 157x100 meter ini pada awal berdirinya memiliki dua bagian utama.   Di antaranya, halaman yang menempati hampir separuh area masjid dan dikelilingi serambi yang melengkung. Ini terinspirasi dari bentuk Masjid Nabawi, Madinah. 

Ruang shalat ketiga sepanjang 160 meter bagian plafonnya dilapisi dengan kayu berukir, didukung dengan tiang-tiang kolom dari reruntuhan bangunan kuil Romawi di sekitar area tersebut, termasuk dari Gereja Maria di Antiok.Fasad dari halaman dan arkadenya ditutup dengan warna marbel, mozaik dari kaca dan lapisan emas. Masjid ini mungkin merupakan masjid dengan mozaik berlapis emas terbesar di dunia. Dengan lebih dari 400 meter persegi mozaik berlapis emas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement