Senin 07 Mar 2016 21:05 WIB

'Tak Mudah Bangun Toleransi dengan Perkembangan Media Sosial'

Rep: C25/ Red: Achmad Syalaby
Kerukunan antar Umat Beragama. (ilustrasi)
Foto: www.cathnewsindonesia.com
Kerukunan antar Umat Beragama. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media sosial memang menjadi fenomena dalam dunia modern. Namun, media sosial turut menjadi tantangan berat dalam perkembangan toleransi.

Direktur Eksekutif Maarif Institute, Fajar Riza Ul Haq, mengatakan media sosial membuat banyak orang lebih cepat menangkap dan mempercayai sebuah pemberitaan. Padahal, pemberitaan apapun yang ada belum memiliki kepastian kebenaran, baik yang tersebar maupun disebarkan.

"Tidak mudah membangun toleransi dengan perkembangan media sosial yang masif," kata Fajar, Senin (7/3).

Ia menjelaskan, sikap toleransi yang masif terlihat di media sosial saat menanggapi sebuah permasalahan, tidak melulu mencerminkan apa yang terjadi di lapangan. Selain itu, Fajar menilai banyak pengguna media sosial yang memiliki pola pikir pragmatis, sehingga cepat mengungkapkan kesimpulan sesaat.

Untuk itu, ia mengimbau pentingnya memberikan edukasi kepada para pengguna media sosial, kalau pemberitaan yang tersebar atau disebarkan tidak lantas menjadi fakta. Sebab, lanjut Fajar, pemberitaan yang beredar di media sosial acap kali malah mengeskalasi konflik.

Fajar menambahkan kasus rasial yang terjadi di Inggris dan disebabkan sebuah pesan dari blackberry messenger (bbm), menjadi peringatan tegas akan pentingnya mengelola isu yang berkembang di media sosial. Menurut Fajar, sikap kritis dalam menanggapi isu-isu yang beredar di media sosial menjadi salah satu langkah tepat sebagai kontrol diri.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement