Ahad 06 Dec 2015 10:35 WIB

Muslim AS: Tanpa Iman, akan Kewalahan Hadapi Islamophobia

Rep: Amri Amrullah/ Red: Winda Destiana Putri
Muslim AS
Foto: globemuslims.com
Muslim AS

REPUBLIKA.CO.ID, NEWBURGH -- Setelah tragedi penembakan oleh seorang Muslim di San Bernardino, California Rabu lalu, keberadaan warga Muslim AS semakin dihinggapi rasa ketakutan.

Teror Paris dan disusul berkembang berbagai insiden Muslim yang dikaitkan dengan terorisme, menjadi propaganda kebencian terhadap Muslim AS.

Bushra Saqib seorang Muslim AS yang tinggal di Newburgh, Indiana mengaku cukup terkejut dengan tragedi penembakan oleh pasangan Muslim AS. Saqib mengungkapkan aksi penembakan itu kembali menjadi pukulan bagi muslim AS, yang bertahun-tahun berusaha menghilangkan kesalahpahaman bahwa Islam anti kekerasan.

"Anda akan lelah dan kewalahan hadapi tuduhan ini bila tidak disertai iman yang kuat," kata Saqib dilansir Associated Press, Sabtu (5/12). Saqib mengatakan ketika mendengar setiap kasus kekerasan yang menasional di AS, ia selalu berharap pelaku kekerasan tersebut bukanlah seorang Muslim.

Hal ini disebabkan sentimen anti Islam dan Islamophobia di AS semakin diskriminatif. Ia mengatakan, sebanyak dan sebaik apapun muslim AS, penghargaan itu akan hilang hanya ketika seorang muslim melakukan kekerasan. Hal ini berbeda dengan warga Muslim AS lain. Muslim AS selalu dituntut untuk memerangi paham radikal, menjauhkan pemuda Muslim dari paham menyimpang dan gerakan ektrimis.

Salah satu warga Muslim AS di Newburgh, Omar Atia membuat sebuah video kampanye memerangi propaganda ISIS, pada musim panas lalu, sebelum mencuatnya tragedi Paris dan meningkatnya kebencian terhadap Muslim. Video Atia ini menjadi perhatian nasional AS dan banyak mendapatkan banyak pujian berbagai pihak.

Namun dalam sekejap setelah Teror Paris dan penyerangan San Bernardino, upaya kerasnya itu seperti tidak berbekas. Padahal ia mengajak banyak tokoh muslim AS tetap proaktif menentang penafsiran Alquran yang salah oleh sekelompok orang.

"Ini sungguh membingungkan ketika saya membaca kasus San Bernardino," kata Atia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement