Rabu 09 Sep 2015 11:34 WIB

Para Tokoh Literasi Islam Pembangun Peradaban

Rep: c 38/ Red: Indah Wulandari
Mushaf Alquran.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Mushaf Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Semua peradaban di dunia pasti memiliki sistem bahasa, yang acapkali diikuti sistem aksara. Keberaksaraan masyarakat ini penting untuk membangun pondasi ilmu pengetahuan.

Dilansir dari Onislam.net, Selasa (8/9), untuk memperingati Hari Aksara Internasional yang ditetapkan setiap 8 September, beberapa tokoh literasi di dunia Islam dinilai sangat berjasa membangun peradaban Islam.

Sosok pertama, tentu saja Zayd bin Tsabit, sekretaris Rasulullah SAW. Ia dikenal atas kontribusinya menuliskan ayat-ayat Alquran selama masa kenabian. Zaid menjadi salah satu otoritas terkemuka dalam penulisan Alquran, sampai Umar ibn Khattab menyebut siapapun yang ingin bertanya tentang Alquran harus merujuk Zayd untuk klarifikasi.

Sementara, Zayd tidak asing di kalangan penghafal Alquran laki-laki, para sahabat perempuan memiliki figur Ummu Salamah, Hafsah binti Umar, dan Aisyah binti Abu Bakar, yang hafal seluruh kitab suci.

Hafsah binti Sereen, juga dikenal memegang otoritas utama dalam dunia literasi. Hafsah adalah budak yang dimerdekakan oleh Anas bin Malik dan diketahui telah hafal Alquran pada usia 12. Selain menghafal seluruh kitab suci, Hafsah juga seorang muhadits dan fuqaha (ahli hukum Islam).

Sebagai mercusuar pengetahuan Islam, banyak sahabat yang datang padanya untuk berkonsultasi. Sampai hari ini, ia diakui sebagai periwayat sejumlah hadis.

Tokoh ikonik lain, Abu ad-Dardaa', juga dikenal karena kekayaan ilmu pengetahuan dan kesalehannya. Karena semangatnya untuk dienul Islam, ia bertekad merawat gadis yatim piatu, yang kemudian dikenal sebagai Umm ad-Dardaa'.

Umm ad-Dardaa menemani Abu ad-Dardaa' belajar berbagai bidang pengetahuan dan ibadah, menyerap pengetahuan para ulama saat masih remaja.

Apa yang kita tahu dari para sahabat seperti Zayd, Hafsah, dan Umm ad-Dardaa', adalah paparan keberaksaraan di sekitar mereka pada usia muda. Niat mereka untuk belajar agama tidak pernah goyah. Mereka juga memiliki mentor hebat yang bertekad untuk menjaga hidupnya api ilmu pengetahuan.

Patut diketahui pula, universitas pertama yang didirikan di dunia -Universitas al-Qarawiyyin atau al-Karaouine di Fes, Maroko- didirikan oleh seorang wanita Muslim bernama Fatima al-Fihri pada 859. Sekolah tersebut menjadi salah satu pusat spiritual dan pendidikan terkemuka dalam sejarah dunia Muslim.

Lembaga ini juga diakui oleh Guinness Book of Records dan UNESCO. Al Qarawiyyin masuk ke sistem universitas modern Maroko pada tahun 1963, dengan menawarkan program studi di luar studi Islam.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement