REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semasa hidupnya, Rasulullah memiliki kebiasaan tidur siang. Namun, durasi tidur siang beliau tidaklah lama sekitar 10-15 menit.
"Jadi bukan tidur seharian ya. Itu salah," ungkap Pimpinan Lembaga Dahwah Kratif iHaqi, Ustaz Erick Yusuf, saat dihubungi ROL, Ahad (9/8).
Kang Erick demikian sapaan akrabnya menjelaskan, dari berbagai hadis, Nabi Muhammad SAW sudah lebih awal tidur setelah menunaikan shalat Isya. Setelah itu, beliau kembali bangun ketika dini hari untuk menunaikan shalat Qiamulail (Tahajud) dilanjut dengan menunaikan shalat subuh.
Selepas subuh, beliau bukan tidur melainkan berzikir hingga matahari mulai menunjukkan cahayanya. "Saat itu beliau menunaikan shalat Dhuha untuk mengawali aktivitasnya," katanya.
Selanjutnya, Rasul dan para sahabatnya menunaikan shalat Zhuhur. Mereka beristirahat dan tidur dalam waktu singkat di siang (Qailullah). "Ternyata fungsi ini adalah untuk melepas kantuk dan meningkatkan konsentrasi," ujarnya.
Kebiasaan ini, kata dia, sudah diterapkan di Indonesia. Tepatnya pada zaman penjajahan Hindia Belanda. "Kebiasaan itu ada di masyarakat daerah Kupang," kata Kang Erick. Kini, kebiasaan ini banyak ditiru negara lain salah satunya Jepang.
Kebiasaan tidur siang dapat meningkatkan konsentrasi dan penghilang kantuk. Ternyata, kebiasaan ini menjadi rutinitas semasa Rasulullah Muhammad SAW.




