Kamis 06 Aug 2015 12:46 WIB
Muktamar Muhammadiyah

Guru Muhammadiyah Minim di Daerah Terpencil

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Indah Wulandari
Muhammadiyah
Muhammadiyah

REPUBLIKA.CO.ID,MAKASSAR -- Pengelolaan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan nyatanya masih menyisakan banyak kekurangan. Salah satunya diakibatkan oleh minimnya guru berlatar belakang Muhammadiyah di daerah terpencil.

Racham Udaa, perwakilan dari Kabupaten Minahasa Selatan di Muktamar Muhammadiyah ke-47 menuturkan, di daerahnya cukup banyak sekolah Muhammadiyah.

Sayangnya, guru yang berada di sekolah tersebut tidak begitu paham mengenai Muhammadiyah. Hal ini menyebabkan dakwah Muhammadiyah tidak tersampaikan secara maksimal.

"Kalau bisa kan lulusan Muhammadiyah yang memiliki ilmu tinggi banyak dari pulau Jawa atau Sulawesi Selatan. Nah, bagaimana mereka itu bisa didorong untuk mengajar di daerah terpencil. Sehingga semua pendidikan di bawah Muhammadiyah bisa menghasilkan alumni yang paham Muhammadiyah," ujar Rachman dalam sidang Komisi Dakwah, Kamis (6/8).

Hal senada terlontar dari Perwakilan Muhammadiyah di Maluku Utara, Arifin. Dia menyebutkan bahwa daerah Maluku Utara mempunyai masyarakat muslim hanya 40 persen. Hal ini membuat kader Muhammadiyah sangat sulit bersaing walaupun bekerja di amal usaha bidang pendidikan.

Arifin juga menyebut, kepala sekolah di pendidikan Muhammadiyah di daerahnya banyak dijabat oleh orang non-Muslim.

"Ini akan pincang dalam berdakwah, jika sekolah Muhammadiyah masih seperti ini," ujar Arifin.

Untuk itu dia meminta agar PP Muhammadiyah bisa melakukan langkah strategis dan berkonsolidasi dengan Muhammadiyah di daerah dalam memperbaiki dakwah melalui pendidikan yang lebih bermutu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement