Senin 03 Aug 2015 10:02 WIB

Tokoh Muhammadiyah Tegaskan Muktamar Bersih dari Intervensi Politik

Rep: C25/ Red: Bayu Hermawan
Peserta berbaris mengikuti Karnaval Muktamar Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (1/8). Ribuan peserta mengikuti karnaval dalam rangka menyambut Muktamar ke-47 Muhammadiyah dan Muktamar Satu Abad Aisyiyah yang berlangsung 3-7 Agustus 2015 di
Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Peserta berbaris mengikuti Karnaval Muktamar Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (1/8). Ribuan peserta mengikuti karnaval dalam rangka menyambut Muktamar ke-47 Muhammadiyah dan Muktamar Satu Abad Aisyiyah yang berlangsung 3-7 Agustus 2015 di

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Daulay memastikan jika pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah ke-47, bebas dari intervensi politik.

Menurutnya, sistem pemilihan dan kedewasaan Muhammadiyah dalam berdemokrasi yang sudah teruji, menjadi salah satu kunci mengapa muktamirin selalu kelihatan riang dan gembira serta jauh dari kasak-kusuk.

Anggota DPR itu, menerangkan kalau kalahiran tokoh Muhammadiyah selama ini juga selalu natural, lantaran tidak ada pemimpin yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Keyakinan tersebut juga ditambah kebiasaan yang terjadi, yang apabila ada orang-orang yang kelihatan ambisius, biasanya justru akan ditinggalkan oleh anggota Muhammadiyah yang lainnya.

"Di Muhammadiyah ini aneh, justru yang kelihatan kasak-kusuk dan ambisius akan ditinggalkan," katanya.

Anggota Panlih Muktamar Muhammadiyah ini juga merasa kalau sistem dan mekanisme pemilihan berjenjang dan panjang yang selama ini diterapkan, juga membuat intervensi sulit untuk dilakukan.

Ia juga menjelaskan jika ebelum muktamar, sistem dan mekanisme pemilihan telah dibicarakan pada sidang tanwir sejak satu tahun sebelum muktamar, sehingga, jika ada yang perlu disempurnakan akan dibicarakan pada sidang tanwir itu.

Lulusan UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Indonesia itu juga mengatakan pada saat peserta datang ke arena muktamar, biasanya tidak ada lagi yang mempersoalkan mengenai mekanisme dan sebagainya.

Pengusulan calon, pemilihan bakal calon, sampai pemilihan formatur di muktamar sudah diatur sebelumnya dan persaingan yang terjadi biasanya selalu berjalan dengan santun.

Saleh menambahkan kalau Muktamar Muhammadiyah akan memilih 13 orang calon formatur, sehingga, dengan peserta mencapai 2.500 orang, akan sulit bagi siapa pun untuk ikut campur dan mengarahkan para pemilih kepada kandidat tertentu. Bahkan menurut Saleh, terkadang formatur 13 merasa heran mendapatkan suara yang lebih banyak dari orang lain.

"Itu menandakan kalau sebelum pemilihan mereka tidak pernah menghitung dan mereka-reka berapa suara yang akan diperoleh," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement