Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Masjid Hunto, Simbol Dakwah Islam Gorontalo (1)

Jumat 26 Jun 2015 16:47 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Hunto Gorontalo

Masjid Hunto Gorontalo

Foto: Wikipedia

REPUBLIKA.CO.ID, GORONTALO --  Meski shalat dzuhur telah usai, beberapa lelaki berbaju koko dan peci tampak lalu lalang memeriksa beberapa bagian masjid Hunto yang merupakan tempat ibadah Islam tertua di Gorontalo tersebut.

Mereka sedang melakukan pembenahan menyambut Ramadhan dan Lebaran. Selain mempercantik struktur bagian gerbang masjid, takmirul atau pengurus masjid juga melakukan pengecatan di beberapa sisi dinding. Masjid Hunto di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, itu terletak persis menghadap sebuah persimpangan jalan sehingga arus lalu lintas di sekitarnya cukup padat.

Saat pertama kali dibangun pada tahun 1495 Masehi atau 899 Hijriah, struktur bangunan hanya berukuran 12 x 12 meter dan setelah renovasi berkali-kali kini luasnya menjadi 17x12 meter dengan penambahan ruang shalat bagi jamaah perempuan di sisi utara.

Meski telah direnovasi, namun pengelola masjid secara turun temurun berupata tetap mempertahankan bentuk dan ukuran bangunan utama masjid. Keempat tiang masjid semua terbuat dari kayu kelapa dengan tinggi enam meter. Namun saat ini seluruh bangunan telah dibuat dari beton.

Ketua Takmirul Masjid Hunto Syamsuri Kaluku (64) mengungkapkan masjid itu dibangun oleh Raja Amai, penguasa Gorontalo kala itu. Bagi masyarakat Gorontalo, masjid tersebut adalah simbol masuknya Islam ke Gorontalo sekaligus memiliki kenangan romantika yang selalu dirawat melalui kisah orang-orang terdahulu.

Saat itu, Sultan Amai ingin mempersunting seorang puteri bernama Boki Autango, anak dari Raja Palasa yang memerintah di Moutong, daerah perbatasan antara Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Raja Palasa yang juga seorang Muslim kemudian mengajukan dua syarat agar pinangan tersebut diterima yakni Raja Amai harus menganut agama Islam dan membangun sebuah masjid di Gorontalo sebagai mahar pernikahan.

"Syarat diajukan karena pada masa itu Raja Amai dan seluruh rakyatnya masih menganut animisme," katanya.

Syarat tersebut langsung dipenuhi oleh Amai. Sang Raja mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat menjadi seorang Muslim dengan dibantu seorang aulia Maulana Syeh Syarif Abdul Azis. "Syeh Syarif diketahui datang langsung dari tanah Arab demi membantu masuknya Islam ke daerah ini. Dia menetap hingga meninggal di Gorontalo," kata Syamsuri.

Tak hanya itu, Raja Amai yang kemudian diberi gelar Sultan Amai juga turut mengislamkan seluruh rakyat yang dipimpinnya. Sultan segera membangun sebuah masjid dan memberinya nama Hunto yang berasal dari kata Ilohuntungo berati basis atau pusat perkumpulan dan penyebaran Islam.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA