Sabtu 14 Mar 2015 17:13 WIB

Ulama: Bangkitkan Kembali Budaya Menulis

Kitab Shahih Muslim yang disyarah Imam Nawawi (ilustrasi).
Foto: tubanku.wordpress.com
Kitab Shahih Muslim yang disyarah Imam Nawawi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO -- Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Cirebon, Jawa Barat, KH Husein Muhammad mengajak umat Islam untuk membangkitkan kembali budaya menulis dengan membangun kebiasaan yang bersentuhan dengan literasi itu.

"Saya tidak pernah pergi tanpa membawa buku untuk dibaca. Dari membaca itu akan muncul inspirasi untuk menulis," katanya pada seminar dan peluncuran buku Membaca dan Menggagas NU ke Depan di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu.

Pendiri Institut Studi Islam Fahmina yang menghasilkan puluhan buku itu mengemukakan ulama masa lampau banyak sekali yang menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku, seperti KH Nawawi Al Bantani, Syech Ihsan Jampes Al Kadiri, Syech Yasin Padang, Syech Jalil dan lainnya.

"Syech Ihsan Jampes itu karya-karyanya diakui internasional dan menjadi kajian di Al Azhar Kairo. Kiai Nawawi Al Bantani itu dalam satu hari belajar 12 ilmu pengetahuan dan Syech Jalil setiap hari menulis 14 halaman," kata penulis buku, antara lain Fiqih Seksualitas, Fiqih HIV/AIDS dan Islam Agama Ramah Perempuan itu.

Alumnus Al Azhar Kairo itu mengemukakan apa yang dinikmati umat saat ini adalah buah yang ditanam ulama terdahulu. Karena itu, umat saat ini juga harus menanam atau berkarya agar bisa dinikmati oleh umat di masa mendatang.

"Yang akan abadi adalah karya tulis. Tapi harus ditulis dengan hati yang tulus. Ulama yang bukunya kita baca yang masuk ke dalam hati kita karena ditulis dengan hati yang bening, tanpa hasrat apapun, kecuali memberi saja. Memberi itu tidak akan pernah berkurang," ujarnya.

Ia menceritakan ulama terdahulu dengan fasilitas sangat terbatas, namun karyanya luar biasa, baik jumlah maupun kualitasnya. Zaman dulu kertas dan tinta sangat terbatas.

"Internet tidak ada, listrik juga tidak ada, tapi bisa menulis beribu-ribu lembar. Imam Syafi'i, penanya menjadi cahaya, Imam Nawawi telunjuknya menjadi cahaya. Betapa kegelapan ruang tidak menghalangi beliau untuk terus menulis," ujarnya.

Husein menyarankan seseorang yang ingin menulis dimulai dari hal-hal kecil, seperti catatan perjalanan atau pertemuan dengan seorang tokoh.

Sementara ulama muda yang juga pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, KH M Faizi, MFil, mengatakan seorang penulis harus pandai mengambil sudut pandang berbeda dari biasanya sehingga menghasilkan karya menarik.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement