REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Rangkaian acara Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Keenam masuk ke sesi pertama, yakni pembahasan penguatan peran politik umat Islam. Sebelumnya, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin memberikan pidato pembuka.
Dalam sambutannya, Din menyinggung keterpinggiran umat Islam Indonesia. "Sering umat Islam memprakarsai perubahan, tapi tidak kuasa menahan laju perubahan. Ibaratnya, pendorong mobil mogok. Mobilnya jalan, umat ditinggalkan," kata Din, Senin (9/1) di Yogyakarta.
Penyebab, lanjut Din, para pemuka Islam Indonesia tidak memiliki rumusan rancangan kerja bersama. Baik yang akan diterapkan di ormas-ormas Islam maupun partai politik berplaform Islam.
"Ini kita tidak punya blueprint. Kita yang usung perubahan, tapi orang lain yang mengisinya," jelas Din.
Karena itu, kata Din, pada KUII kali ini, pihaknya mengajak seluruh elemen umat Islam kembali mengambil pelajaran dari KUII pertama dan kedua, yang bisa melahirkan tonggak sejarah. Yakni, konsolidasi umat di bawah MIAI dan selanjutnya menjadi Masyumi. Sebagai bendera satu-satunya pergerakan umat di bidang politik dan lini kehidupan lain.
"Saya harap KUII ini jadi arena silaturahim, untuk menjalin kasih sayang di antara kita umat Islam. Lanjut ke silatul fikri. Dan ini tidak mudah. Mudah-mudahan tidak ada yang main pokoknya-pokoknya (dalam forum ini)," pungkasnya.




